News

Pendapatan Anjlok, Kinerja Buruk Dirut PT KBN Sattar Taba Dipertanyakan

0

PT. Kawasan Berikat Nusantara atau yang lebih dikenal dengan sebutan PT. KBN dimiliki oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta. PT KBN Saat ini dipimpin oleh Sattar Taba.

Saham pemerintah pusat di KBN sebesar 73.15 persen atau sebesar Rp.266.2 miliar, dan pemerintah daerah provinsi DKI menguasai saham sebesar 26.86 persen, atau sebesar Rp.97.5 miliar

Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi menilai kinerja PT. KBN dibawah pimpinan Sattar Taba benar benar buruk.

“Kinerja Sattar Taba pimpin KBN benar-benar buruk. Bisa dilihat dari pendapatan perusahaan Jasa Properti Industri yang pada tahun 2018 turun sebesar 82 miliar. Pendapatan PT. KBN tahun 2018, hanya sebesar Rp.473,41 miliar. Padahal pada tahun 2017, bisa sampaiĀ  Rp.555,44 miliar.” ungkap Uchok.

Menurut Uchok, dampak penurunan pendapatan PT. KBN ini adalah penurunan laba perusahaan sebesar Rp.87,12 miliar. Dimana pendapatan perusahaan pada tahun 2017 bisa mencapai sebesar Rp.397,86 miliar, dan pada tahun 2018, hanya sebesar Rp.310,43 miliar

Uchok menyebutkan, dampak penurunan pendapatan juga melibas kepada pendapatan dividen bagi pemegang saham.

“Pertumbuhan dividen untuk pemerintah pusat tahun 2016 ke 2017 sebetulnya mengalami penurunan sebesar Rp.2,3 miliar. Dimana Dividen pada tahun 2017 pertumbuhan hanya sebesar Rp.9,5 miliar, dan pada tahun 2016, dividen bisa mencapai 11,5 miliar” tutur Uchok.

Begitu juga dividen untuk provinsi DKI Jakarta dari tahun 2016 ke 2017 mengalami penurunan pertumbuhan sebesar Rp.870 juta.

“Tahun 2016 bisa mencapai sebesar Rp.4,3 miliar, dan pada tahun 2017 hanya bisa sebesar Rp.3,5 miliar.” kata Uchok.

Yang lebih prihatin lagi dari buruknya pengelola PT. KBN ini adalah meningkatnya utang perusahaan dari tahun 2017 ke tahun 2018.

“Bila dilihat dari catatan keuangan tentang utang bank jangka pendek, pada tahun 2017 hanya sebesar Rp.18,5 miliar, dan pada tahun 2018 sudah mencapai sebesar Rp.70.5 miliar. Artinya utang bank jangka pendek dari tahun 2017 ke 2018 naik sebesar Rp.52 miliar.” sebut Uchok.

Selain utang bank, Uchok melanjutkan, peningkatan utang perusahaan juga ada di peningkatan utang usaha. Pada tahun 2017 utang usaha hanya sebesar Rp.33,4 miliar dan tahun 2018 meningkat menjadi sebesar Rp.38,5 miliar.

“Ini artinya, dari tahun 2017 ke tahun 2018 utang usaha meningkat sebesar Rp.5.1 miliar” kata Uchok.

Dari penjelasan itu, Uchok menyimpulkan bahwa PT. KBN bisa dianggap menuju kebangkrutan perusahaan karena pendapatan menurun tapi utang perusahaan terus-menerus mengalami kenaikan.

“Kami dari CBA meminta Gubernur Anies bawesdan segera melakukan evaluasi atas kinerja Dirut PT. KBN Sattar Taba. Kalau perlu dipecat daripada perusahaan menuju bangkrut. Juga meminta Menteri BUMN Erick Thohir segera melakukan pergantian komisaris dan direksi PT. KBN karena kinerja sangat buruk dan merugikan keuangan perusahaan.” pungkas Uchok.

PBSI Home Tournament, Bukan Sekadar Uji Coba Bulutangkis

Previous article

Massa Aksi Tolak RUU HIP Membludak Depan DPR, Jalan Gatot Soebroto Ditutup Total

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *