News  

Politik Energi

Adanya pertumbuhan ekonomi dunia yang ditampilkan pada kemunculan negara-negara dengan ekonomi maju merupakan perkembangan yang positif. Negara tersebut seperti Jepang, India, Cina, Rusia, US, dsb adalah contoh dari beberapa negara yang mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi.

Selain itu hal tersebut bisa menjadi berita negatif karena akan menimbulkan kebutuhan minyak dunia yang semakin meningkat tajam. Badan Energi Dunia (IEA) memberikan sebuah statement bahwasanya kebutuhan minyak dunia naik 3.1 juta bph pada tahun 2022 yang sebelumnya rebound pada kuartal akhir sekitar 5.4 juta bph. Jika benar adanya, negara-negara OPEC dan non-OPEC belum tentu akan mampu memenuhinya.

Dengan kebutuhan minyak dunia yang tidak sebanding dengan kemampuan pemenuhannya, negara-negara maju yang ada di dunia akan menghadapi ancaman krisis energi dan perang berebut energi.

Yang mengakibatkan, minyak tidak lagi dilihat hanya sebagai komoditas ekonomi saja, tetapi juga dipandang sebagai instrumen politik yang dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara.

Didalam sebuah pelajaran sejarah, kita pernah mengenal serta belajar tentang Jepang menduduki Indonesia selama 3 tahun. Jepang melakukan invasi pada tanggal 11 Januari 1942 dimulai dari Pulau Tarakan.

Ada apa dengan Pulau Tarakan? Pertama di Pulau Tarakan yang terletak di posisi yang sangat strategis bagi Jepang karena menghubungkan Australia, Philipina, dan Timur Jauh.

Kedua, Pulau Tarakan ternyata menyimpan sebuah kekayaan sumber kekayaan alam berupa minyak dengan kualitas yang sangat baik dan bagus. Jepang sendiri sebagai negara industri baru di kawasan Asia pada saat itu membutuhkan sumber energi baru dan Tarakan menjadi pintu masuk bagi Jepang untuk menguasai sumber minyak Indonesia lainnya seperti Balikpapan, Palembang, dan Cepu.

Atau masih relevankah kita dengan peristiwa serangan 11 September 2001? Pada saat itu, diduga dua pesawat Amerika Serikat dibajak oleh teroris dan kemudian mereka menabrakan ke gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York.

Fenomena tersebut menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk mengeluarkan kebijakan war on terrorism dan diikuti oleh negara-negara di dunia. Kebijakan inilah yang menginisiasi Amerika Serikat selanjutnya untuk melakukan invasi ke wilayah Afghanistan yang diklaim sebagai sarang teroris.

Pada dasarnya Amerika Serikat sudah mengetahui jauh hari sebelumnya bahwa akan ada teroris yang diduga membajak pesawat dan menabrakkannya ke Gedung WTC. Namun Amerika Serikat membiarkan dan menjustifikasi bagi Amerika Serikat untuk menyerang Afghanistan serta mendapat dukungan dari negara-negara di dunia.

Lalu mengapa harus Afghanistan? Ternyata, Afghanistan adalah negara yang memiliki sumber kekayaan alam yang sangat melimpah. Afghanistan memiliki minyak dan gas alam yang sangat dibutuhkan terutama oleh negara industri besar seperti Amerika Serikat.

Fenomena-fenomena di atas hanya sebagian kecil dari fenomena perang energi, perang untuk mendapatkan energi. Invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, konflik di Georgia serta yang terbaru konflik Rusia Ukraina adalah contoh lain yang memberi bukti bahwa minyak dapat menyebabkan terjadinya perang.

Kawasan Timur Tengah termasuk Irak, Iran, Arab Saudi, kemudian Afghanistan, dan Laut Kaspia adalah kawasan yang menyimpan potensi kekayaan minyak yang luar biasa melimpah dibandingkan kawasan lain di dunia. Oleh karena itu, tidaklah salah jika ada ungkapan “Di mana ada minyak, di situ ada perang”.

Migas dan Ekonomi
Dewasa ini dunia sedang menghadapi krisis minyak karena cadangan minyak yang semakin menipis sedangkan kebutuhan negara akan minyak semakin besar. Hal tersebut mengakibatkan semakin besarnya ancaman terjadinya perang untuk memperebutkan kilang minyak.

Negara-negara yang membutuhkan minyak sebagai bahan baku industri utama pastinya akan terus berlomba-lomba untuk menguasai sumber energi tesebut yang ada di berbagai kawasan. Yang bertujuan untuk kepentingan ekonomi negara mereka. Ketika senbuah negara dapat menguasai sumber daya alam(minyak), maka negara tersebut akan mendapatkan dengan mudah apapun baik kebijakan politik yang strategis serta perekonomiannya pun akan berjalan sebagaimana mestinya.

Sebuah kawasan yang mempunyai sumber daya alam (minyak) tidak hanya di Timur Tengah. Di wilayah Laut Arktic misalnya juga memiliki kekayaan alam yang melimpah berupa minyak yang ada di dasar lautnya. Negara-negara maju yang membutuhkan supply dari minyak lebih memilih bertarung di kawasan Timur Tengah karena berbicara biaya eksploitasi yang lebih murah dibandingkan dengan Laut Arktik. Hal ini semakin menguatkan bahwa pada dasarnya suatu negara akan berusaha mendapatkan sebuah keuntungan yang maksimal dengan biaya yang seminim mungkin.

Perang dan Ekonomi
Sebuah kawasan yang kaya akan sumber daya minyaknya sangat memiliki potensi yang besar untuk terjadinya perang di dalamnya. Hal tersebut memberikan dampak yang sangat negatif bagi perekonomian negara tersebut hingga dunia. Semisalnya konflik yang terjadi antara Rusia dan Georgia.

Ketika Rusia mendeklarasikan penghentian operasi militernya di Georgia, harga minyak menjadi turun dari sebelumnya. Contoh lain intervensi di Irak pada tahun 2014 sempat meningkatkan harga minyak akibat dari hal tersebut, dan yang terbaru invasi Rusia dan Ukraina. Yang di ramal harga migas dunia akan tembus $300 bph, mengapa bisa demikian?

Terjadinya status geopolitik pada kawasan jalur pipa gas Nordstream 2 menyebabkan ketegangan antara Rusia dan negara barat lainnya seperti Inggris dan Amerika yang menentang pembangunan jalur pipa gas tersebut. Hal itu dikhawatirkan dan seolah akan menimbulkan konsekuensi pada Uni Eropa atas ketergantungannya pada Rusia.

Faktanya jika adanya sanksi-sanksi berat yang akan dijatuhkan kepada negara Rusia hal tersebut akan mengakibatkan melonjaknya harga global yang berakibat fatal pada perekonomian dunia.

Badan Energi Dunia (IEA) memaparkan bahwa Uni Eropa mengimpor sekitar 155miliar kubik meter gas alam dari Rusia di tahun 2021, angka tersebut setara dengan 40% dari konsumsi gas di Uni Eropa, peristiwa-peristiwa geopolitik yang begitu besar akan berimplikasi besar pada harga energi secara subjektifnya.

Hal ini juga mengindikasikan bahwa ketika perang yang sedang berkecamuk, maka harga migas langsung naik dengan drastis karena distribusinya terganggu akibat konflik dalam pusaran kepentingan politik seperti yang dikemukakan oleh John Davison Rockefeller “The best business in the world is a well-run oil company. The second best business in the world is a badly run oil company.”

Yuwono Setyo Widagdo, Wasekjen DPP BM KOSGORO 1957