News  

PPJNA 98 Dukung Penguatan Jaring Solidaritas Sosial untuk Perkuat Ketahanan Masyarakat

Anto Kusumayuda (IST)

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Aktivis 98 (PPJNA 98) Anto Kusumayuda menegaskan dukungan penuh organisasinya terhadap gerakan membangun jaringan solidaritas sosial sebagai upaya memperkuat ketahanan masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi dan sosial. Dukungan ini disampaikan Anto dalam pernyataan kepada Radar Aktual di Jakarta, Sabtu (13/9).

Anto memandang bahwa semangat solidaritas merupakan warisan penting dari gerakan reformasi 1998 yang menekankan kebersamaan dan kepedulian antarwarga. “Solidaritas adalah energi bangsa. Tanpa jejaring yang kuat antarwarga, kita akan rapuh menghadapi persoalan kemiskinan, bencana, dan kesenjangan sosial. PPJNA 98 merasa terpanggil untuk ikut menggerakkan kekuatan ini,” ujar Anto.

PPJNA 98 lahir dari semangat reformasi dan persaudaraan aktivis yang pernah terlibat dalam pergerakan mahasiswa 1998. Anto menilai bahwa pengalaman masa lalu menghadapi krisis multidimensi menjadi modal sosial yang relevan saat ini.

“Kami pernah merasakan bagaimana solidaritas menjadi benteng ketika menghadapi ketidakpastian pada 1998. Kini, nilai yang sama perlu dihidupkan untuk menjawab tantangan kekinian seperti ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga dampak teknologi,” ungkapnya.

Menurut Anto, solidaritas sosial bukan sekadar bantuan material, tetapi juga gerakan pemberdayaan. Ia menekankan pentingnya program-program yang menghubungkan warga dalam gotong royong, seperti koperasi pangan, pendampingan UMKM, hingga pendidikan kritis untuk anak muda. “Ini bukan hanya tentang donasi. Ini tentang menyalakan kembali gotong royong sebagai kekuatan budaya bangsa,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Anto mengapresiasi inisiatif komunitas Warga Peduli Warga yang baru saja meluncurkan gerakan Jaring Solidaritas Sosial bersama 98 Resolution Network, kelompok yang juga berakar dari alumni gerakan mahasiswa 1998. PPJNA 98 siap berkolaborasi dengan berbagai elemen, mulai dari organisasi masyarakat sipil, kelompok pemuda, hingga pemerintah daerah.

“PPJNA 98 memiliki jaringan purnawirawan dan aktivis di berbagai provinsi. Kami akan menggerakkan kader dan simpul-simpul kami untuk bersinergi dengan komunitas lokal. Pendekatannya partisipatif: mendengar kebutuhan warga, bukan datang membawa agenda dari atas,” jelas Anto.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan pemerintah. Menurutnya, kebijakan yang pro-komunitas dan anggaran yang berpihak pada inisiatif solidaritas perlu diperkuat. “Kita perlu ekosistem yang memungkinkan warga membantu warga secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan karitatif jangka pendek,” katanya.

Dukungan PPJNA 98 terhadap Jaring Solidaritas Sosial datang di tengah meningkatnya tantangan sosial, seperti ketimpangan ekonomi pascapandemi, perubahan iklim yang memicu bencana alam, dan krisis pangan global. Anto menekankan bahwa solidaritas warga menjadi penopang penting saat negara menghadapi keterbatasan.

“Bencana banjir, kebakaran hutan, hingga inflasi yang menekan daya beli masyarakat, semua itu tidak bisa ditangani pemerintah sendiri. Kita membutuhkan kesadaran kolektif dan aksi nyata dari seluruh elemen bangsa,” ucapnya.

Anto mengajak generasi muda untuk mengambil peran utama. Menurutnya, anak-anak muda memiliki semangat kreatif dan akses teknologi yang bisa menjadi motor gerakan solidaritas modern, misalnya melalui platform digital penggalangan dana dan komunitas berbasis aplikasi.

Di akhir pernyataannya, Anto menegaskan bahwa PPJNA 98 tidak hanya akan memberi dukungan moral, tetapi juga menyiapkan langkah konkret. Organisasi ini berencana mengadakan pelatihan relawan sosial, membentuk posko solidaritas di daerah rawan bencana, dan mendorong pengembangan ekonomi komunitas berbasis koperasi.

“Solidaritas sosial bukan sekadar jargon. Ini adalah kerja panjang yang membutuhkan konsistensi. Kami di PPJNA 98 percaya bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang saling peduli. Bersama jaringan Warga Peduli Warga dan berbagai elemen masyarakat, kami optimistis Indonesia bisa menjadi contoh negara yang tangguh karena warganya bersatu,” tutup Anto.