Membahas isi mulut barangkali menjadi sesuatu yang tak lazim, lantaran pembahasan bukan seputar isi otak seperti biasanya, kenapa? Karena terkadang apa yang ada di pikiran, tak bisa tergambarkan kecuali jika isi pikiran itu membuncah dalam ucapan. Isi mulut lebih konkret, ia menggambarkan realitas dari apa yang dipikirkan, apa yang menjadi sikap, dan apa yang menjadi cermin diri. Lebih menarik lagi kalau kita mencoba menakar isi mulut para presiden. Berhubung, akhir-akhir ini, banyak yang merasa resah tiap kali Presiden Prabowo mulai berada di podium dan berpidato. Tapi rasanya tak adil kalau kita membahas hanya isi mulut Prabowo, sementara ada 7 presiden lain yang juga layak diperbandingkan.
Dimulai dari Soekarno, presiden pertama RI ini dikenal karena kesaktian mulutnya. Maklum saja, ia adalah seorang Gemini. Gen Z yang gemar memperhatikan zodiak seringkali mengasosiasikan Gemini sebagai bintang yang bermulut manis. Semakin gawat kalau mulut manis seorang Gemini disertai dengan kecerdasan intelektual dan jiwa kepemimpinan yang tertempa secara alami seperti Bung Karno. Tiap kali berpidato, mulutnya seperti menyemburkan api semangat perlawan akan pembebasan. Masyarakat senantiasa berpekik, setuju terhadap apa yang disampaikan Bung Karno.
Berbagai jargon, mulai dari ‘Ganyang Malaysia’, ‘Jas Merah’, ‘Berdikari’, ‘Ho Lopis Kuntul Baris’ dan sebagainya muncul dari dirinya. Apa yang keluar dari mulut Bung Karno rasanya tak pernah tak bermakna. Atas gaya komunikasinya yang menyentuh akal pikiran manusia Indonesia, ia bahkan dianugerahi predikat sebagai penyambung lidah rakyat. Wajar jika kita menelisik lebih jauh perjalanan kehidupannya yang begitu membiru di tengah kondisi tergencet para penjajah. Alhasil terlahirlah seorang Soekarno, sang orator.
Berbeda dengan Bung Karno, Presiden ke-2 RI, Pak Harto tak memiliki keterampilan berpidato secakap itu. Bisa dikatakan Pak Harto adalah antitesis dari sang orator. Gaya komunikasi Pak Harto begitu dingin, terkesan hati-hati, namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Tekanan suaranya yang begitu berat dan berwibawa membuat Pak Harto tak membutuhkan energi besar untuk berbicara. Media barat bahkan menjulukinya sebagai the smiling general.
Keunggulan Pak Harto adalah lahir dari rahim rakyat, sehingga ia mampu berbicara bahasa rakyat. Saat berbicara dengan petani, Pak Harto bukan seperti seorang presiden, ia berbicara layaknya kepada sesama petani. Saat bersama nelayan, ia seperti seorang nelayan yang berbicara kepada sesamanya. Pun saat bersama guru, saat bersama buruh, saat bersama kaum terpelajar, Pak Harto dapat membersamai semua pembicaraan secara setara.
Sementara itu penerusnya, BJ Habibie berbeda lagi. Sebagai seorang teknokrat, Habibie berbicara penuh dengan perhitungan. Ada sedikit kehati-hatian dan kecermatan dalam setiap komunikasinya kepada publik. Habibie sadar, ia memimpin masa transisi yang tak boleh memunculkan ruang kesalahan. Habibie juga komunikator yang handal, berkat perhitungannya terhadap implikasi atas komunikasi, ia berhasil memimpin Indonesia menuju transisi reformasi yang amat mulus.
Lepas dari Habibie, Indonesia dipimpin oleh seorang Kyai yang terkenal karena gaya komunikasi satir nan jenaka, KH. Abdurrahman Wahid atau akrab dikenal dengan nama Gus Dur. Dibesarkan dari lingkungan pondok pesantren, membuat Gus Dur khatam dengan berbagai celotehan yang jenaka, cerdas, tanpa menimbulkan ketersinggungan bagi orang lain. Gus Dur juga mampu menerjemahkan berbagai pemikirannya secara kaffah dalam caranya berkomunikasi.
Berikutnya, Megawati Soekarnoputri Presiden RI ke-5. Meski ia menyandang nama besar seorang Soekarno, caranya berkomunikasi sungguh berbeda dengan sang ayah. Pada awal kemunculannya, Megawati dikenal sebagai figur yang selalu terzalimi. Hingga muncullah diksi, “Diam Itu Emas” dari dirinya. Namun akhir-akhir ini, ketika usia mulai memunculkan kebijaksanaan yang lebih tinggi, Megawati mulai menunjukkan tajinya sebagai seorang orator. Ia jauh lebih berani, lebih lantang, lebih blak-blakan dalam mengungkap fakta politik. Terlebih ia adalah pemimpin partai politik terbesar di Indonesia, tentu menghadirkan gaya komunikasi yang lugas tanpa tedeng aling-aling adalah sebuah keniscayaan.
Kalau ada Presiden RI yang dianggap paling stabil dalam berkomunikasi ia adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di balik semua diksi keprihatinan yang sering disampaikannya, SBY adalah komunikator yang lengkap. Ia rapi dalam menyampaikan konteks, jelas dalam intonasi, lugas dalam pesan. Tak jarang, tubuhnya juga ikut berbicara mengafirmasi apa yang sedang disampaikan oleh mulutnya. Tak heran, segala sesuatunya disiapkan secara matang oleh SBY. Ia adalah pribadi yang detail, termasuk dalam mempersiapkan pidato-pidatonya.
Joko Widodo atau Jokowi, sang Presiden RI ke-7, memunculkan gaya baru dalam berkomunikasi. Orang mulai berusaha memahami gaya komunikasi Jawa yang penuh simbol. Maklum saja, Jokowi bukan orang yang gemar berbicara blak-blakan, nadanya senantiasa datar, jarang ada tekanan, makna yang disampaikan pun kadang ambigu. Tapi di balik itu semua, Jokowi berhasil memunculkan gaya komunikasi yang lugas, enggan tergesa-gesa, meski pada akhirnya, banyak pula orang yang menanyakan apa maksudnya.
Terakhir tentu Presiden Prabowo, Presiden RI ke-8. Isi mulut Prabowo belakangan banyak memunculkan Pro Kontra. Berbagai diksi yang seharusnya tidak keluar di atas podium pun meluncur begitu saja. Mulai dari ‘Ndasmu’, ‘Londo Ireng’, ‘Antek-Antek Asing’ dan sebagainya seringkali membuat publik tak nyaman. Prabowo seperti asik dengan dunianya sendiri. Sehingga tim komunikasi Presiden mewanti-wanti agar Prabowo membaca teks saja saat berpidato agar tak menimbulkan kegaduhan publik.
Namun peringatan itu berkali-kali diindahkannya, Prabowo tak bergeming. Meski ia tahu risikonya bakal dirujak oleh netizen, ia tetap percaya diri berbicara di atas podium. Caranya berkomunikasi mengingatkan kita akan sosok Ahok, yang pernah terpeleset karena perkataannya. Bedanya spontanitas Ahok sedikit lebih akurat ketimbang Prabowo. Ahok juga mau belajar dari kesalahan, sementara Prabowo? Apakah kita bisa mewajarkannya?
Menilik dari latar belakang kehidupannya, Prabowo lahir sudah ada di kehidupan keluarga yang berada, keluarga yang kaya secara ekonomi. Sehingga ada kecenderungan ia gagal menyelami empati dari fungsi komunikasi kepada rakyat. Gawatnya, di lingkungan yang memelihara feodalistik seperti kabinet yang dibentuknya, Prabowo akan senantiasa merasa selalu benar, meskipun dia berada di ujung jurang kesalahan, ia akan tetap dipuja sebagai sumber kebenaran tunggal oleh lingkarannya. Prabowo sudah kadung nyaman dengan dirinya yang sekarang, lepas sudah citra gemoy, menggemaskan seperti saat masa kampanye dulu. Namun bukan citra ketegasan yang berhasil dibentuk, tapi teror, ketakutan dan ketidakpastian yang ternyata keluar sebagai hasil dari gaya komunikasinya saat ini.
Editorial Redaksi
Oleh Rezha Nata Suhandi












