Advokat Indonesia dan Australia, Denny Indrayana, kembali menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam surat yang ditulis pada Selasa pagi, Denny mengingatkan adanya tiga “alarm” yang menurutnya dapat menggerus legitimasi sebuah pemerintahan, yakni krisis ekonomi, skandal publik berupa korupsi, dan skandal pribadi.
Denny menyebut sejarah politik menunjukkan bahwa sebuah rezim umumnya tidak runtuh hanya karena satu persoalan, melainkan akibat akumulasi berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan.
“Sejarah politik mengajarkan: kekuasaan jarang runtuh karena satu pukulan. Biasanya tiga alarm berbunyi bersamaan: krisis ekonomi, skandal publik berupa korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, serta skandal privat yang menghancurkan kepercayaan,” tulis Denny dalam surat terbukanya, Rabu (29/7/2026).
Mengenai persoalan ekonomi, Denny menilai kondisi ekonomi nasional perlu menjadi perhatian serius. Ia menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah dan mengingatkan bahwa krisis ekonomi dapat mempersempit ruang gerak pemerintah apabila tidak segera ditangani dengan kebijakan yang kredibel.
Menurut Denny, persoalan ekonomi akan semakin berat apabila dibarengi dengan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Pada aspek kedua, Denny kembali menyoroti persoalan korupsi yang menurutnya telah merambah berbagai sektor. Ia menilai korupsi bukan hanya soal pencurian uang negara, melainkan juga penyalahgunaan kewenangan publik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
Ia juga mengingatkan bahwa penegakan hukum yang dianggap tebang pilih dapat memperburuk persepsi publik terhadap pemerintah.
“Rezim mulai kehilangan pijakannya ketika korupsi dianggap biasa, penegakan hukum dinilai pilih kasih, dan kekuasaan melindungi korupsi orang-orangnya sendiri,” tegasnya.
Selain itu, Denny menyoroti pentingnya menjaga integritas pejabat publik, termasuk dalam kehidupan pribadi apabila telah berkaitan dengan dugaan pelanggaran hukum atau penyalahgunaan jabatan.
Dalam surat tersebut, Denny menyinggung unggahan Amien Rais yang memuat dugaan adanya skandal privat di lingkaran Istana. Namun, ia menegaskan dirinya tidak menyatakan tuduhan tersebut benar, melainkan meminta agar isu itu diklarifikasi secara terbuka agar tidak memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.
Menurut Denny, pemerintah sebaiknya memberikan penjelasan berbasis fakta apabila muncul tuduhan serius yang menjadi perhatian publik.
Menutup suratnya, Denny menegaskan bahwa ketiga persoalan tersebut tidak cukup dijawab melalui pidato semata. Ia berpandangan pemulihan ekonomi, pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, serta penanganan dugaan skandal pribadi melalui proses hukum yang adil merupakan langkah penting untuk menjaga kepercayaan publik.
“Saya tulus berdoa, semoga Bapak Presiden diberi kekuatan dan kejernihan untuk membawa kapal Republik Indonesia melewati tiga gelombang tsunami besar tersebut: krisis ekonomi, skandal publik, dan skandal pribadi,” tutup Denny.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Presiden Prabowo Subianto terkait isi surat terbuka tersebut.












