Penangkapan paksa terhadap wartawan Royman M Hamid, Sulawesi Tengah memicu kemarahan dan keprihatinan dari berbagai kalangan. Pengamat politik M Said Didu menyatakan fakta mengejutkan bahwa negara sudah tidak ada lagi di Morowali, yang berkuasa kini adalah oligarki.
Dalam obrolan dengan wartawan senior Edy Mulyadi di kanal YouTube Bang Edy Channel yang diunggah Selasa (6/1/2025), Didu mengecam keras cara penangkapan yang menurutnya seperti menangkap gembong narkoba.
“Video yang beredar menunjukkan adegan seperti menangkap gembong narkoba. Bahkan ada laporan serombongan polisi mendatangi rumah kakak wartawan ini dengan melepas tembakan ke udara. Sadis,” ujar Didu.
Didu menganalisis penangkapan ini sebagai bagian dari perlawanan oligarki terhadap gebrakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Morowali. Menurutnya, gebrakan Sjafrie untuk menertibkan perampokan sumber daya alam tidak diikuti dengan pengawalan yang memadai, sehingga muncul perlawanan.
“Langkah polisi menunjukkan proses penangkapan secara terbuka dan kekerasan bukan ditujukan pada yang ditangkap, tapi untuk memberikan pesan kepada yang lain,” kata Didu yang telah lima kali berkunjung ke Morowali.
Didu menyebut ada tiga kekuatan yang kini bergerak melawan Presiden Prabowo: Solo (partai politik busuk), Oligarki, dan Parcok (pejabat polisi busuk). Buktinya kata Didu, dua orang yakni Zulfan Lindan dan Ade Armando langsung menyerang Sjafrie Sjamsoeddin melalui podcast mereka.
Said Didu menyampaikan seruan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk kembali ke jati diri yang sebenarnya dan tidak berada di bawah bayang-bayang oligarki.
“Pak Sjafrie Sjamsoeddin sekarang sudah dilawan oleh oligarki. Maka pilihan Bapak adalah melanjutkan operasi sapu bersih terhadap oligarki dan parcok yang sekarang sudah melawan Bapak secara terbuka,” kata Didu.
Edy Mulyadi menambahkan bahwa rakyat tidak bisa lagi berharap pada aparat, tentara, polisi, bahkan pejabat. “Rakyat harus bangkit melawan, menentukan diri sendiri untuk menyelamatkan Indonesia,” pungkasnya.
Didu dan beberapa aktivis kini menginisiasi gerakan merebut kembali kedaulatan rakyat yang akan melibatkan partisipasi dari berbagai kalangan, termasuk dari luar negeri. (Sumber)












