News  

Asing Karpet Merah, Lokal Terasing

Negara kita ini memang paling ramah kalau urusan membentangkan karpet merah bagi investor asing, tapi mendadak amnesia saat bicara soal porsi kerja untuk anak bangsa sendiri. Realisasi investasi boleh saja tembus Rp 1.400 triliun lebih per tahun, namun ironisnya, daya serap tenaga kerja lokal justru terus merosot sementara jumlah tenaga kerja asing (TKA) melonjak drastis dengan dalih transfer teknologi yang tak kunjung terbukti.

Kita hanya bangga memamerkan angka pertumbuhan di atas kertas PowerPoint yang mentereng, sementara di lapangan, pemuda kita hanya jadi penonton setia dari balik pagar pabrik yang tanahnya dulu milik nenek moyang mereka.

Ini bukan kemajuan, melainkan seni mengundang tamu untuk berpesta pora di ruang tamu, sementara sang pemilik rumah hanya dibolehkan menjadi pencuci piring kotor di dapur dengan upah yang pas-pasan.

Data Paradoks Investasi:

Realisasi Investasi (2023-2024): Mencapai Rp 1.418,9 triliun, naik sekitar 17,5% secara tahunan (year-on-year).

Penurunan Daya Serap: Di tahun 2013, setiap Rp 1 triliun investasi mampu menyerap sekitar 4.500 tenaga kerja, namun kini angka tersebut anjlok hanya sekitar 1.300 hingga 1.500 orang per Rp 1 triliun.

Serbuan TKA: Peningkatan izin kerja bagi TKA di sektor pertambangan dan pengolahan melonjak signifikan, seringkali mengisi posisi teknis menengah yang sebenarnya bisa diisi oleh lulusan SMK atau diploma lokal.

Pengangguran Terdidik: Angka pengangguran terbuka masih didominasi oleh lulusan SMK (sekitar 9-10%) dan Diploma/Sarjana, membuktikan adanya mismatch antara janji investasi dengan ketersediaan lapangan kerja bagi pribumi.

Oleh: ET Hadi Saputra