Memulai hubungan baik yang sempat dinilai publik “retak” bukan perkara mudah. Butuh jiwa besar. Tidak melihat siapa salah siapa benar. Yang dilihat adalah tetap terjaganya hubungan baik.
Jangankan hubungan dalam pengertian politik. Hubungan suami dan istri saja tidak luput dari pertengkaran dan perselisihan. Namun keduanya bisa bertahan karena adanya saling pengertian.
Menjaga hubungan yang sempat dinilai “retak” membutuhkan komunikasi, kejujuran, introspeksi diri, dan kesabaran. Dibelakang layar biasanya ada komunikasi yang tak terlihat. Apalagi dari orang yang dikenal pengagum SBY, Anies dan AHY.
Memulai dengan meminta maaf secara tulus di Hari Raya Idul Fitri setelah sebulan ditempah di “madrasah” Ramadan. Melanjutkan ketaatan dalam menjaga hubungan baik sebagai saudara seiman. Inilah salahsatu tanda-tanda diterimanya puasa Ramadan.
Sebagaimana nasihat ulama, “Diantara tanda diterimanya amal adalah dimudahkan untuk melanjutkan kebaikan setelahnya.”
Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan,
ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا
“Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah pernah ditanya perihal tanda-tanda diterimanya amal-amal salih yang dilakukan seorang hamba.
“Maka, di antara tanda-tanda diterimanya (sebuah amal): lapangnya dada, istiqamah di atas kebaikan, bergegas dalam ketaatan, berhati-hati dari keburukan dan dosa…” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)
Diluar prediksi. Langkah tak biasa. Anies Baswedan menunjukkan teladan yang baik. Seperti yang sering Anies Baswedan ceritakan, “Kita adalah rombongan Nabi Musa alaihissalam”
Cerita Anies itu mengingatkan kita akan kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa seperti diceritakan al-Quran dalam surat al-Kahfi ayat 60-82.
Ada tiga perisiwa besar dari kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa yang sempat diprotes Nabi Musa meski Nabi Khidir telah mensyaratkan Nabi Musa untuk bersabar:
Pertama, melubangi perahu. Khidir merusak perahu agar tidak dirampas raja zalim.
Kedua, membunuh Anak. Khidir membunuh anak yang kelak akan membawa orang tuanya pada kesesatan.
Ketiga, menegakkan Dinding: Khidir memperbaiki dinding rumah anak yatim agar harta mereka terjaga.
Kesimpulan kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa yang kerap sekali Anies Baswedan sampaikan adalah, _”Nabi Musa mengambil hikmah setelah peristiwa terjadi. Umumnya kita manusia. Sedangkan Khidir diberi ilmu oleh Allah untuk memahami hikmah di balik peristiwa sebelum terjadi.”
Sebagai pemimpin yang berfikir dan berjiwa besar. Tidak pendendam. Yang lalu biarlah berlalu. Ambil hikmah dari peristiwa masa lalu karena kita bukan Nabi Khidir yang bisa mengambil hikmah sebelum peristiwa terjadi.
Langkah strategis Anies Baswedan yang mendapat acungan jempol dari publik di momentum Hari Raya Idul Fitri. Menjalin silaturrahmi dan merawat ukhuwah Islamiyah. Membangun kembali hubungan yang dimata publik sempat dinilai “retak” sebagai bagian ketaatan kepada Allah subhanahuwata’ala.
“Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah mereka yang memulai salam.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Dinilai paling utama karena memulai bukanlah perkara mudah. Hanya hati yang bersih, tulus dan ikhlas yang dapat memulai dengan menyambungkan tali kasih sayang atau lebih kita kenal dengan silaturrahmi.
Akankah ada langkah tak terduga lanjutan dari Anies Baswedan, SBY dan AHY? Wallahua’lam bish-shawab
Bandung, 8 Syawal 1447/28 Maret 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












