Yang Mulia, izinkan saya dan kami sebagai bagian dari rakyat Indonesia pada peringatan 40 hari syahadah Pemimpin Besar Revolusi Iran ini untuk mengatakan ‘selamat’ kepada syahadah yang telah beliau peroleh diharibaan Allah azzawajalla, dan kami sampaikan bela sungkawa dan duka cita yang mendalam serta permohonan maaf dengan tulus kepada yang mulia dan bangsa Iran atas bungkamnya para pemimpin pemerintahan kami, atas ketidakmampuan mereka mengutuk kebiadaban setan sesar Amerika dan setan kecil israel atas serangan yang mereka lancarkan kepada bangsa Iran, dan dengan hati tulus mohon maafkanlah mereka.
Yang Mulia, ketidakmampuan mereka semata-mata karena ketidakberdayaan mereka dihadapan berhala-berhala yang memperdaya kami dan para pemimpin kami, yang telah melumpuhkan sendi-sendi nurani kami. Kezaliman telah menekan kami berpuluh dekade dan kami tidak mampu melawannya karena mata, hati dan pikiran kami telah dipenuhi dengan delusi kesuksesan duniawi yang mereka dan sekutunya telah ciptakan. Mereka menjebak kami dan para pemimpin kami dalam fatamorgana “super power” yang pada hakikatnya adalah sarang laba-laba yang rapuh.
Yang Mulia, usia negeri kami telah lebih dari 80 tahun setelah kami rebut kemerdekaan dari para perampok dari Barat dan Timur, lebih dari kemerdekaan yang kalian peroleh 47 tahun lalu dari pemimpin kalian yang zalim yang menjadi kaki tangan Setan Besar dan Setan Kecil dan sekutu mereka. Namun kini kalian jauh lebih berdikari dengan keberanian pemimpin bangsa kalian, sedangkan para pemimpin bangsa kami sekarang telah meninggalkan jejak-jejak perjuangan para pendiri bangsa ini dengan merendahkan diri mereka dihadapan kesombongan Barat dan Timur yang dulu memperbudak kami. Satu waktu kami diseret bersujud kearah timur hanya untuk sesuap nasi, dan di lain waktu kami dipukul untuk sujud kearah Barat untuk secuil teknologi, dan itu sebabnya lidah kami dan mereka kelu walau untuk mengucapkan bela sungkawa kepada kalian atau mengutuk mereka. Mereka takut amukan setan menggila kepada tujuan-tujuan duniawi kami.
Yang Mulia, bangsa anda beruntung bahwa bangsa anda dibangun oleh tonggak-tonggak keimanan para pemimpinnya, yang tetap kokoh berdiri dihadapan kezaliman walau tubuh kalian harus bersimbah darah, dan disaat yang sama bangsa kami bersimbah airmata mengemis belas kasih kepada setan Besar dan setan kecil hanya untuk seteguk kesuksesaan duniawi. Ketika bangsa Iran melawan setiap para pencambuk yang berupaya memperbudaknya, pemimpin bangsa kami menyerahkan cambuk itu kepada bangsa Barat dan Timur untuk memperbudak kami dan menjual kami di pasar-pasar global. Luka di punggung-punggung kami akibat cambukan mereka adalah tanda ketidakberdayaan kami, sedangkan luka di sekujur tubuh kalian adalah tanda perlawanan, kemampuan dan kehormatan kalian. Namun saya dan rakyat Indonesia yakin, anda dan bangsa anda tidak pernah menertawakan nasib kami yang sial, namun dengan sabar bangsa anda tetap mengulurkan tangan kepada kami untuk berdiri tegak dihadapan setan-setan duniawi.
Yang Mulia, 40 hari sejak syahadah Pemimpin Besar revolusi, bangsa kami masih tersentak, dan tersadar seolah revolusi bangsa Iran adalah dejavu bagi bangsa kami yang merindukan kehormatan bangsanya kembali di dunia internasional, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain. Syahadah beliau menyadarkan kami, dan setiap tetesan darahnya telah mengajarkan kepada kami arti kehormatan bangsa, darah pemimpin yang membuat jantung Sejarah Republik Islam Iran tetap berdetak karenanya.
Bangsa ini dan bangsa Iran akan senantiasa bergandengan tangan melawan setiap kesombongan Setan besar, setan kecil dan para penyembah mereka, dalam kemanusiaan, keadilan dan perdamaian abadi yang akan kita wujudkan bersama.












