News  

Menjadi Teladan di Era Digital Kian Berat, Jejak Kecil Bisa Menggugurkan Kredibilitas Pemimpin

Hatta Taliwang (IST)

Menjadi sosok teladan di tengah masyarakat pada era digital dinilai jauh lebih berat dibandingkan masa awal kemerdekaan Indonesia. Kemajuan teknologi informasi dan media sosial membuat setiap perilaku, ucapan, hingga kehidupan pribadi seorang pemimpin dapat direkam, disebarluaskan, dan dinilai publik dalam hitungan detik.

Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, M. Hatta Taliwang dalam catatannya berjudul “Beratnya Menjadi Teladan di Era Info Digital” menyoroti perbedaan karakter kepemimpinan antara generasi pendiri bangsa dengan pemimpin masa kini.

Menurutnya, pada era perjuangan kemerdekaan hingga berakhirnya Orde Lama, Indonesia memiliki banyak tokoh yang menjadi panutan masyarakat. Nama-nama seperti Bung Hatta, Mohammad Natsir, Jenderal Abdul Haris Nasution, Jenderal Hoegeng, I.J. Kasimo, hingga Johannes Leimena dikenal karena integritas, kesederhanaan, dan keteladanan hidup mereka.

“Mereka punya sikap jujur, hidup sederhana, tidak bergelimang kemewahan, dan menjadi contoh bagi masyarakat,” tulis Hatta Taliwang, Kamis (25/6/2026).

Ia menggambarkan kehidupan para pemimpin pada masa itu jauh dari simbol-simbol kemewahan. Teknologi komunikasi masih sangat terbatas, televisi belum menjangkau luas, telepon rumah hanya dimiliki kalangan tertentu, dan kendaraan pribadi bukan kebutuhan utama.

Namun, setelah Indonesia memasuki era pembangunan, perubahan sosial dan ekonomi melahirkan pola hidup yang semakin materialistis. Masyarakat mulai menilai kesuksesan melalui kepemilikan aset, jabatan, kemewahan, hingga gaya hidup.

“Orang mulai berpikir pragmatis dan hedonis. Rumah mewah, kendaraan bermerk, gelar tinggi, hingga berbagai simbol status menjadi ukuran keberhasilan,” ujarnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru bagi para pemimpin. Jika dahulu kehidupan pribadi tokoh publik relatif sulit diakses, kini hampir seluruh aktivitas dapat terdokumentasi dan menjadi konsumsi publik.

Menurut Hatta, seorang pemimpin yang memiliki rekam jejak baik sekalipun dapat kehilangan citra keteladanannya apabila terdapat satu sisi negatif dalam kehidupannya yang terungkap ke publik.

Ia mencontohkan, seorang pejabat yang dikenal rajin beribadah dan tidak korupsi bisa kehilangan kepercayaan publik apabila diketahui melakukan kekerasan terhadap anak atau memiliki anggota keluarga yang tersangkut persoalan hukum dan narkotika.

“Di era sekarang, satu sisi buruk saja bisa menghapus banyak kebaikan yang pernah dilakukan,” katanya.

Tidak hanya persoalan besar, perilaku sehari-hari yang dianggap sepele pun dapat menjadi sorotan. Membuang sampah sembarangan, melanggar aturan lalu lintas, tidak mengenakan helm, hingga bertengkar di ruang publik dapat direkam masyarakat dan menjadi jejak digital yang sulit dihapus.

Jejak tersebut, lanjutnya, dapat digunakan untuk membangun opini negatif yang memengaruhi kredibilitas seseorang, terutama ketika memasuki arena politik.

Karena itu, Hatta menilai tantangan menjadi pemimpin teladan pada masa sekarang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Selain harus menjaga integritas dalam jabatan, seorang pemimpin juga dituntut menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari karena setiap tindakan berpotensi menjadi konsumsi publik.

Ia pun memberikan pesan kepada generasi muda yang memiliki cita-cita menjadi pemimpin di masa depan agar mulai menjaga sikap sejak dini.

“Maka pesan yang berguna untuk anak muda yang punya ambisi menjadi pemimpin adalah menjaga sikap dan perilaku sejak dari kamar tidur, di dalam rumah, di halaman rumah hingga di tempat umum, agar tidak meninggalkan jejak digital buruk yang suatu saat dapat digunakan lawan politik untuk menyerang,” tulisnya.

Menurut Hatta, era digital telah mengubah standar keteladanan publik. Seorang pemimpin tidak lagi hanya dinilai dari kebijakan dan prestasinya, tetapi juga dari konsistensi perilaku dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, menjadi teladan bukan hanya soal kemampuan memimpin, melainkan juga kemampuan menjaga integritas di tengah pengawasan publik yang berlangsung tanpa henti.