News  

Ubedilah Badrun: Kritik Rocky Gerung Pada Tiyo Ardianto itu Keliru

Pengamat Politik Indonesia yang juga akademisi Ubedilah Badrun menyatakan Kritik itu hal biasa, apalagi diranah akademik dan ruang publik. Sebab ruang akademik dan ruang publik memang sudah sepatutnya diisi dengan kritik agar tumbuh ide-ide baru atau alternatif pikiran baru yang memungkinkan ide tumbuh dan berkembang untuk menemukan jawaban atas berbagai problem yang dihadapi masyarakat.

“Tetapi kritik Rocky Gerung pada Tiyo yang beredar melalui video itu mengandung kekeliruan yang perlu dikritik sebab lebih terlihat sebagai penghakiman dan menyudutkan Tiyo karena Rocky Gerung lebih sibuk mengkritik diksi satir yang Tiyo sampaikan bukan substansi yang ada dibalik satir simbolik yang Tiyo sebutkan yaitu ‘Prabodoh Subiantolol’. Rocky menyebut Tiyo Ardianto bodoh,” kata Ubedilah Badrun kepada wartawan pada Jum’at (3/7/2026)

“Rocky mestinya membongkar ide dan argumen dibalik satir itu bukan menuduh Tiyo bodoh dan tanpa argumen padahal Rocky belum menguji argumen, ide atau pikiran Tiyo dibalik satirnya,” sambungnya.

Menurut Ubed diksi tersebut adalah satir. Rocky sibuk menghakimi diksi satir itu. Padahal diksi satir itu otoritas pembuat satir. Ketika Tiyo menyebutkan diksi tersebut adalah bagian dari cerita dalam satir tersebut. Tiyo saat itu bercerita tentang kucing yang sakit luka yang lukanya diobati tetapi kucing itu justru marah mencakarya, kucing tidak mampu memahami bahwa obat tersebut akan menyembuhkanya, kucing terus menerus mencakar, lalu Tiyo diakhir cerita memberinama kucing itu ‘Prabodoh Subiyantolol’.

Bahkan Ubed menilai tajam, diksi satir simbolik itu biasa dalam sastra kritis dan ia memiliki ruang merdeka untuk disampaikan, apalagi ditengah situasi sosial politik yang penuh represi terhadap kritik. Tiyo tidak menyebutkan kucing itu bernama Prabowo Subianto.

“Saya kira saya perlu mengutip pandangan M. H. Abrams untuk mengkritik Rocky Gerung. Abrams adalah kritikus sastra legendaris yang menulis buku berjudul A Glossary of Literary Terms. Ia mendefinisikan satire sebagai the literary art of diminishing or derogating a subject by making it ridiculous and evoking toward it attitudes of amusement, contempt, scorn or indignation.

Jadi Lebih lanjut, Ubed menilai, secara teoritik dalam bahasa sastra satire apa yang dilakukan Tiyo sah sah saja dan dapat dibenarkan sesuai konteksnya. Jika satire Tiyo membuat sekelas Rocky Gerung gerah itu berati Satire Tiyo berhasil sebab tujuan satire menurut Abrams memang diantaranya bisa membuat pendengar seperti Rocky Gerung itu merasakan situasi contempt (penghinaan), scorn (cibiran) atau indignation (kemarahan).

“Problemnya mengapa Rocky Gerung seperti merasa terhina, tercibir dan marah ya sampai-sampai dengan nada keras menyebut Tiyo bodoh,” katanya.

“Padahal saat Tiyo mengucapkan satir tersebut ada Rocky Gerung ditempat yang sama dan dia tidak langsung merespon satir Tiyo tersebut di forum tersebut tetapi ia meresponnya sangat terlambat setelah beberapa hari. Sesuatu yang tidak pada konteks peristiwanya,” terang Ubed.

Ubed menilai Rocky meresponnya sangat terlambat di forum yang berbeda dan tidak ada Tiyo. Rocky merasa dirinyalah yang memprovokasi Tiyo karena minta naikan satu oktaf sehingga menurut Rocky ada pihak yang melaporkan dirinya ke polisi meskipun Rocky tak sebutkan siapa yang melaporkanya ke polisi soal tuduhan provokasi terhadap Tiyo itu? Tidak ada satupun pemberitaan tentang laporan tersebut. Mungkinkah Rocky Gerung sedang mengarang cerita?

“Jadi, apa yang dilakukan Tiyo sesungguhnya bukan slapstick dan bukan juga sarkasme personal seperti yang dituduhkan Rocky Gerung sebab ia tidak langsung menyerang personal seseorang dengan kata-kata yang kasar,” terangnya.

“Tetapi ia sesungguhnya membuat perumpamaan atau amsal atau cerita permisalan untuk mengajak audiens berpikir dengan cerita kucing yang diobati yang terus mencakar pemberi obat, dan obat dalam satir Tiyo itu ia maksudkan sebagai kritik,” tandas Ubed.

Dalam pandanga Ubed, adapun nama Prabodoh Subiantolol yang Tiyo sebutkan untuk menamakan kucing itu dimaksudkan untuk seseorang yang enggan diobati atau enggan dikritik. Secara teks bahasa belum tentu nama itu dimaksudkan sebagai Prabowo Subianto.

“Tetapi Rocky dan Publik mungkin menafsirkan itu Prabowo Subianto. Jadi Rocky terjebak dalam tafsirnya sendiri,” pungkasnya.