News  

Panda Nababan Ungkap Jokowi Pendendam, Mengingatkan Sosok Ki Ageng Mangir

Ada Berita mengagetkan. Politisi Senior PDIP Panda Nababan mengaku takut terkait hubungan Jokowi dan Surya Paloh akhir-akhir ini. Karena keduanya punya sifat sama, yakni sifat pembalas. Banyak media menulis pendendam.

Duh ini dia, mengingatkan pada tokoh Ki Ageng Mangir di awal Mataram. Ada sifat pembalas bertindak dengan trik halus. Gegara Ki Ageng Mangir yang sakti, dianggap bandel pada Mataram.

Di situlah Raja Mataram Panembahan Senopati membalas lewat trik halus via putrinya, yang akhirnya menjadi peristiwa berdarah.

Kembali kepada penuturan Panda Nababan, ia menceritakan saat HUT TNI di Cilegon. Jokowi terpaksa jalan kaki sangat jauh ke lokasi, gegara jalan penuh manusia.

Lantas, saat acara resepsi pernikahan anak Jokowi, Panglima TNI Gatot Nurmantyo diberi tempat di belakang, bukan tempat terhormat jajaran pejabat tinggi. Dan, beberapa waktu kemudian Jenderal Gatot dicopot dari jabatan Panglima TNI, padahal pensiun masih 5 bulan lagi.

Menurut Panda, Prabowo Subianto pun sempat kena pembalasan Jokowi. Sebelum Pilpres 2014, Prabowo mengatai Jokowi sebagai tukang andong, mana mungkin menang di Pilpres melawan dirinya.

Ternyata, cerita sampai telinga Jokowi. Maka saat Jokowi usai pelantikan, naik andong muter-muter sekitar Monas di tengah lautan pendukungnya. Maksudnya agar Prabowo melihat tukang andong.

Kalau soal sifat pembalas Surya Paloh, Panda Nababan mengunkap tiga contoha, salah satunya terhadap SBY.

Entah kesal dalam kasus apa, Surya meminta Kejagung memeriksa SBY.Namun, SBY tahu gelagat itu, lantas mengutus mantan Mensesneg Sudi Silahi meminta Jampidum menghentikan.

Nah, itulah yang membuat Panda Nababan takut, kalau hubungan Jokowi dan Surya Paloh kian panas. Keduanya punya sifat pembalas. Bisa runyam negara, tanpa kita tahu tiba-tiba terjadi hal mengerikan. Trik-trik dimainkan, tahu-tahu terjadi hal menakutkan.

Ini yang mengingatkan tokoh Ki Ageng Mangir yang tinggal di tanah perdikan dari jaman Majapahit. Ia tidak menghiraukan Raja Mataram yang gagal menakukkannya dengan senjata.

Maka Pembalasan dari Raja Mataram sangat halus. Anaknya yang cantik, Retno Pembayun ditugasi menyamar jadi tledhek (penari tarub) yang ngamen ke pelosok-pelosok.

Singkat cerita, akhirnya ditanggap di nDalem Mangir. Dan Ki Ageng Mangir tertarik kecantikannya. Ternyata saling jatuh cinta dan menikah.

Saat hamil, Retno Pembayun bilang, dia sebenarnya putri Raja Mataram. Karena hamil, dia ingin ayahnya melihat. Marahlah Ki Ageng Mangir. Ternyata istrinya, anak dari musuhnya. Dia telah dikelabuhi.

Tapi karena rasa cinta pada istri, ia manut, mau sowan ke mertuanya, ya musuhnya. Di situlah, buntutnya kejadian berdarah.

Saat Ki Ageng mangir sungkem bekti, kepalanya dibenturkan ke Batu Gilang di lantai oleh Raja Mataram. Seketika hancur berdarah kepala Mangir, dan tewas.

Nah, seperti halnya disebut Panda Nababan di atas, sifat pembalas memang menakutkan, apalagi dengan trik yang halus dimainkan.

Seperti trik raja Mataram terhadap Ki Ageng Mangir, sekalian akibat dan tujuannya untuk menghancurkan. Janganlah. Semoga hanya katanya Jokowi pendendam. (Sumber)