Candi Manjushringhra atau lebih dikenal dengan Candi Sewu merupakan candi peninggalan Buddha. ‘Bangunan’ ini terletak di Perbatasan antara Kab. Sleman, Yogyakarta dengan Kab. Klaten Jawa Tengah, lebih tepatnya berada di Desa Bugisan, Kec. Prambanan.
Lokasi Candi Sewu bersampingan dengan Candi Prambanan, sehingga pengelolaannya bersamaan dalam Kawasan wisatan Candi Prambanan. Di sekitarnya juga terdapat candi-candi lain seperti Candi Bubrah, Candi Lumbung, Candi Gana, Candi Kulon, dan Candi Lor.
Berdasarkan sejarah, penamaan Candi Sewu tidak lepas juga dari cerita legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Kata sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu. Disebut Candi Sewu karena jumlah yang cukup banyak candi di Kawasan tersebut, sehingga seolah berjumlah seribu dalam kompleks tersebut.
Namun, jumlah candi pada kompleks Candi Sewu hanya berjumlah 249 candi saja, tidak benar-benar seribu.
Salah satu keunikan Candi Sewu berada pada arsitektur bangunan candi dan nilai seni budaya yang terkandung di dalamnya. Candi Sewu memiliki luas sekitar 185 x 165 meter, di mana setiap sisinya memiliki pintu masuk, dengan pintu masuk utama candi berada di sebelah timur.
Di masing-masing pintu, terdapat dua patung raksasa yang berukuran besar setinggi 2,3 meter, seolah sebagai penjaga pintu masuknya. Patung tersebut disebut dengan Patung Dwarapala, yang hingga saat ini masih berdiri tegak dan utuh di Candi Sewu.
Candi yang terdapat di Candi Sewu membentuk sebuah pola. Dalam Kepercayaan ajaran Buddha Mahayana, pola tersebut dinamakan sebagai Mandala Wadiradhatu, sebuah perlambangan perwujudan alam semesta.
Jadi struktur candi pada Candi Sewu, terdapat satu candi pust di tengah yang dikelilingi candi-candi yang lebih kecil (disebut Candi Perwara dan Candi Penjuru).
Di belakang Candi Perwara dan Candi Penjuru, terdapat 2 bangunan candi kembar yang terletak di setiap penjuru mata angin. Namun, saat ini yang tersisa hanya dua candi di sebelah timur dan utara saja.
Candi Utama
Candi Sewu memiliki candi utama yang merupakan pusat Candi Sewu sekaligus terbesar yang terletak di tengah-tengah dan dikelilingi candi-candi kecil. Bangunan ini memiliki tinggi sekitar 30 meter dengan diameter bangunan sekitar 30 meter.
Candi Utama dibangun sepenuhnya menggunakan batu andesit yang dibuat membentuk polygon dengan jumlah sisi sebanyak 20. Pada setiap sudut candi yang menghadap arah mata angina memiliki sedikit bagian yang menjorok keluar.
Struktur candi juga dilengkapi oleh tangga yang berada di masing-masing sudut mata angin dan terdapat susunan stupa.
Berdasarkan penelitian, Candi Utama pada Candi Sewu pada awalnya hanya terdiri atas satu ruang utama. Namun, terdapat beberapa modifikasi seiring dengan perkembangan waktu hingga sampai saat ini menjadi lima ruang.
Ruang utama pada candi ini memiliki sebuah landasan yang berbentuk bunga teratai. Landasan tersebut dipercaya dahulunya terdapat sebuah patung Buddha setinggi 4 meter yang terbuat dari perunggu, namun telah dicuri dan dijarah oleh orang-orang tak bertanggung jawab.
Struktur utama candi berdiri di atas batu setinggi 2, 5 meter, dengan kaki candi dihiasi ukiran bermotif bunga. Terdapat tangga selebar 2 meter untuk mencapai permukaan batur yang membentuk selasar dan dilengkapi dengan pipi tangga.
Panggal pipi tangga pada candi dihiasi dengan kepala naga dengan mulut terbuka lebar dan arca Buddha di dalamnya.
Pada bagian dinding luar pipi tangga, dihiasi pahatan berwujud raksasa yang disebut Kalpareksa. Sedangkan pada dinding kiri dan kanan ambang pintu candi dihiasi pahatan kepala naga menganga dan seekor singa di dalamnya
Candi Perwara
Selain candi utama, terdapat juga candi yang mengelilingi candi utama yang disebut Candi Perwara. Candi Perwara pada Candi Sewu berjumlah 240 candi yang mayoritas memiliki bentuk yang hampir sama dengan candi utama, namun ukurannya saja yang lebih kecil.
Candi perwara tersusun atas 4 baris berpola, di antaranya:
- 28 Candi Perwara pada baris pertama
- 44 Candi Perwara pada baris kedua
- 80 Candi Perwara pada baris ketiga
- 88 Candi Perwara pada baris keempat
Selain itu, terdapat empat arca Dhayani Buddha di dalam Candi Perwara yang bentuknya hampir serupa dengan arca yang terdapat di Candi Borobudur.
Candi Pengapit
Selain kedua struktur candi tersebut, terdapat Candi Pengapit yang berada di sela-sela barisan terluar Candi Perwara. Pada Candi Sewu, terdapat 8 buah candi pengapit yang rata-rata bertinggi sekitar 1 meter. Candi Pengapit disimbolkan sebagai pintu gerbang masuk menuju candi utama.
Candi Pengapit ini terletak di setiap penjuru mata angin, yaitu utara, timur, selatan, dan barat. Candi Pengapit dihiasi beberapa relief pahatan Kalamakara dan sosok pria berpakaian seperti dewa yang berdiri tegak memegang setangkai bunga teratai. Selain itu, ada juga stupa besar diatas candi pengapit yang dikelilingi oleh stupa-stupa kecil di sampingnya.
Semua keistimewaan struktrur dan arsitektur pada Candi Sewu ini menjadikannya sebagai sebuah potensi wisata, terutama dalam meningkatkan kunjungan wisata daerah.
Wisatawan dapat berkunjung ke Candi Sewu dengan melihat kemegahan candi Buddha terbesar kedua di Indonesia ini dengan detail-detail menarik di dalamnya. Salah satunya adalah patung Dewa Wisnu yang memiliki makna tersendiri.
Melihat adanya potensi tersebut, pihak pengelola candi memberikan fasilitas-fasilitas terbaik seperti simulasi pemugaran candi yang dapat membuat para wisatawan belajar secara langsung sekaligus terjun dalam pelestarian candi. Tujuannya untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi.