Merdeka di Republik Jahanam

Firman Tendry Masengi, SH (IST)

Masih pantaskah kita mendengungkan kata Dirgahayu Indonesia.! Merdeka.! di ucapkan sembari menatap kemiskinan, kebodohan serta penindasan terus terjadi?

Jika Orwell menuliskan Oceania sebagai negeri di mana kebohongan dipaksakan sebagai kebenaran, maka Indonesia hari ini adalah cerminan yang tak kalah muram: negeri yang terus menerus mengulang janji kemerdekaan, tetapi gagal menghadirkan keadilan. Delapan dekade berlalu, dan kita masih mencari arti dari kata “merdeka”.

Kini saatnya rakyat berhenti menjadi penonton.

Kita tidak lagi bisa duduk diam di kursi murahan dalam teater kekuasaan, menonton aktor-aktor busuk mempermainkan hukum, memperjualbelikan keadilan, dan menghisap darah rakyat melalui korupsi.

Kita harus mencabut layar panggung itu, merobek naskah usang mereka, dan menulis ulang cerita bangsa ini dengan tinta kejujuran.

Kita harus menumbangkan hukum yang diperdagangkan, menggantinya dengan hukum yang berpihak pada manusia.
Kita harus memutus rantai kemiskinan yang dipelihara, dan menegakkan kesejahteraan bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kenyataan.
Kita harus mencabut akar korupsi sampai ke batang terdalam, meski itu berarti melawan para dewa palsu yang selama ini duduk di singgasana negara.

Karena kemerdekaan sejati bukan hanya bendera yang dikibarkan setiap 17 Agustus, bukan pula pidato yang diperdengarkan dengan pengeras suara, melainkan keberanian rakyat untuk berkata: “Cukup! Republik ini bukan milik oligarki, bukan milik pejabat, bukan milik penguasa. Republik ini milik rakyat, dan hanya rakyat.”

Jika tidak, delapan puluh tahun ini hanyalah jalan menuju seratus tahun kegelapan—sebuah republik tanpa jiwa, tanpa keadilan, tanpa arti. Republik Jahanam.

Dan sejarah akan mencatat kita sebagai bangsa yang rela diperbudak kembali, bukan oleh penjajah asing, tetapi oleh anak negeri sendiri yang menukar kemerdekaan dengan kepalsuan.

Oleh: Firman Tendry Masengi, SH, Advokat/Aktivis 98