Wisata  

Wisma Tumapel Malang, Hotel Warisan Belanda Penuh Nilai Sejarah

Wisma Tumapel , yang dahulu dikenal sebagai Splendid Inn, merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Malang yang menyimpan jejak kejayaan masa kolonial Belanda. Lokasinya terletak strategis di Jalan Tumapel Nomor 1, Klojen.

Bangunan ikonik ini dulunya difungsikan sebagai penginapan para pejabat tinggi Belanda. Selain itu, Wisma Tumapel juga menjadi saksi bisu perkembangan pembangunan kawasan administratif Balai Kota Malang.

Wisma Tumapel Malang: Hotel Bersejarah Warisan Belanda, Langganan Pejabat di Masanya

Dirancang secara khusus dalam program pembangunan Bouwplan II oleh arsitek Belanda ternama, Karsten, bangunan ini berdiri megah di antara pertemuan Jalan Majapahit dan Jalan Tumapel.

Warisan Arsitektur Kolonial yang Megah dan Fungsional Wisma Tumapel memiliki gaya arsitektur Eropa modern dan terdiri atas tiga lantai, termasuk lantai basement. Di dalamnya terdapat sekitar 96 ruangan, beberapa dilengkapi dengan kamar mandi. Sayangnya, lantai asli teraso khas Belanda telah diganti dengan keramik dalam proses renovasi pada 2015.

Uniknya, bangunan ini juga memiliki basement yang konon terhubung ke kawasan SMA Tugu melalui lorong bawah tanah. Namun kini, akses menuju area tersebut telah ditutup dengan tembok cor.

Menurut sejarawan lokal Rakai Hino Galeswangi, pembangunan Wisma Tumapel merupakan bagian dari Bouwplan II, yakni proyek tata kota oleh Belanda yang mencakup Balai Kota Malang, Bundaran Tugu, dan SMA Tugu.

“Di situlah pusat pemerintahan kolonial didirikan, dan kawasan ini memang diperuntukkan bagi para petinggi atau ‘Tumenggung’, yang menjadi asal nama kelurahan Tumenggungan,” jelasnya.

Wisma Tumapel Malang: Hotel Bersejarah Warisan Belanda, Langganan Pejabat di Masanya

Dari Hotel Termewah Jadi Markas Kempetei Jepang

Pada masa jayanya, Splendid Inn dikenal sebagai penginapan termegah di Malang, menawarkan panorama taman dan sungai yang memanjakan mata. Lokasinya yang dekat dengan stasiun menjadikannya favorit para tamu Belanda yang datang dari luar kota.

Namun segalanya berubah saat Jepang menduduki Indonesia. Bangunan ini diambil alih dan diubah fungsinya menjadi markas Kempetei, yakni polisi militer Jepang. Balai Kota tetap difungsikan sebagai pusat pemerintahan, sementara kawasan SMA Tugu digunakan sebagai markas penahanan.

“Saat Jepang datang, fungsinya bergeser. Wisma Tumapel dijadikan markas militer, SMA Tugu menjadi tempat tahanan, dan Balai Kota tetap menjadi pusat komando,” ujarnya.
Simbol Sejarah yang Terlupakan

Hingga kini, Wisma Tumapel tetap berdiri kokoh dan menjadi pengingat akan masa lalu Kota Malang yang penuh sejarah. Meski beberapa bagian bangunan telah mengalami perubahan, struktur aslinya masih terlihat jelas dan menyimpan banyak kisah dari era kolonial hingga masa pendudukan Jepang.

Sebagai salah satu warisan budaya, Wisma Tumapel tak hanya penting dari sisi sejarah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah yang edukatif di Malang.