Latihan bersama (Latma) Orruda 2026 yang mempertemukan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dengan Russian Navy di Vladivostok, Rusia, dinilai memiliki arti strategis yang jauh melampaui agenda latihan militer semata. Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global, latihan tersebut dipandang sebagai bagian dari penguatan diplomasi pertahanan Indonesia sekaligus penegasan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi pijakan kebijakan nasional.
Latma Orruda 2026 resmi dibuka pada Sabtu (25/7) oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali bersama Panglima Armada Pasifik Rusia Admiral Viktor Nikolayevich Liina. Dalam latihan tersebut, TNI AL mengerahkan KRI I Gusti Ngurah Rai-332, satu helikopter Panther, tim Komando Pasukan Katak (Kopaska), serta 145 personel yang akan mengikuti berbagai rangkaian latihan mulai dari Harbour Phase hingga Sea Phase.
Selain latihan operasional, kedua pimpinan angkatan laut juga menggelar pertemuan bilateral yang membahas pengembangan kerja sama jangka panjang, termasuk Passing Exercise (Passex), peningkatan interoperabilitas, pertukaran tenaga ahli di bidang peperangan bawah laut (underwater warfare), hingga perluasan cakupan latihan bersama pada masa mendatang.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai waktu penyelenggaraan Orruda 2026 memiliki makna strategis karena berlangsung ketika konstelasi keamanan internasional sedang mengalami perubahan besar.
Menurut Amir Hamzah, kawasan Indo-Pasifik kini menjadi pusat persaingan kekuatan besar dunia. Amerika Serikat memperkuat aliansinya bersama Jepang, Australia, Korea Selatan, dan berbagai negara mitra. Di sisi lain, Rusia dan China juga terus meningkatkan kerja sama strategis, termasuk di sektor pertahanan maritim.
“Dalam konteks seperti ini, Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan. Latihan bersama Rusia tidak berarti Indonesia berpihak kepada blok tertentu, tetapi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki hubungan pertahanan yang terbuka dengan berbagai negara sesuai kepentingan nasional,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).
Ia menilai Indonesia sedang mengimplementasikan prinsip bebas aktif secara nyata, yakni aktif membangun kerja sama tanpa terikat pada salah satu kekuatan global.
Amir Hamzah mengingatkan bahwa hubungan pertahanan Indonesia-Rusia sebenarnya telah berlangsung cukup lama dan mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelum penyelenggaraan Latma Orruda 2026, kapal perang dan kapal selam Rusia telah melakukan kunjungan persahabatan ke Indonesia sebagai bagian dari diplomasi angkatan laut kedua negara. Kunjungan tersebut dinilai menjadi fondasi penting yang membangun kepercayaan (confidence building measures) sebelum kedua negara meningkatkan intensitas latihan bersama.
“Hubungan pertahanan tidak dibangun dalam satu malam. Diawali dengan kunjungan kapal perang, dialog militer, pertukaran pengalaman, hingga akhirnya berkembang menjadi latihan bersama yang lebih kompleks,” kata Amir Hamzah.
Menurutnya, pola tersebut merupakan tahapan normal dalam kerja sama militer internasional yang bertujuan membangun saling percaya sekaligus meningkatkan profesionalisme.
Salah satu poin yang mendapat perhatian Amir Hamzah adalah pembahasan mengenai kerja sama di bidang underwater warfare.
Ia menilai kemampuan peperangan bawah laut akan menjadi salah satu faktor penentu kekuatan angkatan laut pada masa depan.
“Ancaman maritim modern tidak lagi hanya berasal dari kapal permukaan. Kapal selam, wahana bawah laut tanpa awak, hingga teknologi sensor bawah laut menjadi bagian penting dalam pertahanan maritim abad ke-21,” jelasnya.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menurut Amir, memiliki kepentingan besar untuk terus meningkatkan kemampuan pengawasan dan pertahanan bawah laut.
Ia menilai pengalaman Rusia yang dikenal memiliki teknologi kapal selam dan peperangan bawah laut cukup maju dapat menjadi sumber pembelajaran bagi TNI AL.
Latma Orruda 2026 juga akan menguji kemampuan menghadapi ancaman wahana tanpa awak atau drone laut.
Menurut Amir Hamzah, materi latihan tersebut sangat relevan dengan perkembangan peperangan modern.
Konflik-konflik internasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penggunaan drone laut semakin meningkat sebagai alat pengintaian, sabotase, hingga serangan terhadap kapal perang maupun infrastruktur maritim.
“Dunia sedang memasuki era peperangan otonom. Drone udara sudah umum digunakan, kini drone laut juga berkembang sangat cepat. Indonesia perlu memahami karakter ancaman tersebut sejak dini,” katanya.
Ia menilai latihan menghadapi drone laut bukan sekadar latihan teknis, melainkan bagian dari adaptasi terhadap perubahan karakter peperangan global.
Dalam pembukaan latihan, KSAL Laksamana Muhammad Ali menegaskan bahwa Latma Orruda bertujuan meningkatkan deterrence effect atau efek daya tangkal.
Amir Hamzah menilai konsep tersebut sangat penting dalam strategi pertahanan modern.
“Daya tangkal bukan berarti mencari musuh, melainkan menunjukkan kesiapan sehingga potensi ancaman berpikir ulang sebelum melakukan tindakan yang merugikan Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, semakin profesional kemampuan prajurit TNI AL dan semakin luas pengalaman latihan internasional yang dimiliki, maka kredibilitas pertahanan Indonesia juga akan meningkat.
Amir Hamzah menilai penggunaan kapal perang dalam misi seperti Orruda merupakan bagian dari naval diplomacy atau diplomasi angkatan laut.
Kapal perang saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat tempur, tetapi juga sebagai simbol kehadiran negara, sarana membangun kepercayaan, sekaligus instrumen diplomasi.
“Ketika KRI bersandar di pelabuhan negara sahabat, membawa bendera Merah Putih, melaksanakan latihan bersama, itu merupakan pesan bahwa Indonesia hadir sebagai negara maritim yang aktif membangun stabilitas kawasan,” katanya.
Menurut Amir, diplomasi angkatan laut memiliki nilai strategis karena dilakukan melalui kerja sama praktis yang mempertemukan langsung prajurit kedua negara.
Amir Hamzah juga menilai latihan bersama Rusia harus dipahami dalam kerangka hubungan luar negeri Indonesia secara menyeluruh.
Selama ini TNI AL juga aktif melaksanakan latihan dengan berbagai negara lain, termasuk Amerika Serikat, Australia, Jepang, India, Singapura, Korea Selatan, hingga negara-negara ASEAN.
“Justru kekuatan diplomasi Indonesia adalah kemampuannya menjalin hubungan baik dengan semua pihak. Indonesia tidak menutup diri terhadap siapa pun selama kerja sama itu memberikan manfaat bagi kepentingan nasional,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang independen dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.
Amir Hamzah menilai Latma Orruda 2026 juga mendukung visi Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki kemampuan menjaga keamanan lautnya sendiri.
Dengan wilayah laut yang sangat luas, jalur perdagangan internasional yang strategis, serta posisi di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, Indonesia memerlukan angkatan laut yang profesional dan memiliki pengalaman operasi bersama berbagai negara.
“Latihan internasional seperti Orruda bukan hanya meningkatkan kemampuan tempur, tetapi juga memperluas wawasan strategis, memperkuat interoperabilitas, dan meningkatkan kepercayaan diri prajurit TNI AL dalam menghadapi tantangan keamanan maritim yang semakin kompleks,” pungkas Amir.












