Bencana alam dan kerusuhan sosial kerap muncul ketika unsur penting dalam tatanan masyarakat—seperti aparat hukum dan para pemimpin—tidak lagi mampu menjalankan tugasnya dengan amanah. Ketidakpercayaan rakyat muncul karena mereka telah terlalu sering disakiti oleh kebohongan. Banyak pemimpin yang pandai berbicara, piawai berpidato, dan ucapannya terdengar masuk akal, namun sayangnya, hati mereka dipenuhi kebusukan.
Dari Abu Hisyam as-Silmi berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِهِ
“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR:Thabrani)
Sudah sedemikian parahkah keadaan kita?
Kemajuan dan keberhasilan suatu negara dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada tingkat kejujuran yang dimiliki oleh warga negaranya. Jika kejujuran dijunjung tinggi, maka negara tersebut akan berkembang pesat. Namun sebaliknya, ketika nilai-nilai kejujuran diabaikan, bangsa itu akan gagal dan terpuruk. Kondisi ini akan berujung pada kehancuran.
Agar kehancuran total dapat dihindari, sudah saatnya seluruh elemen bangsa—terutama para pemimpin—mengelola pemerintahan dengan penuh kejujuran. Tanpa kejujuran, kebangkrutan negara hanya tinggal menunggu waktu. Berikut ini adalah pesan dari Rasulullah ﷺ:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيَأتي علَى النَّاسِ سنواتٌ خدَّاعاتُ يصدَّقُ فيها الكاذِبُ ويُكَذَّبُ فيها الصَّادِقُ ويُؤتَمنُ فيها الخائنُ ويُخوَّنُ فيها الأمينُ وينطِقُ فيها الرُّوَيْبضةُ قيلَ وما الرُّوَيْبضةُ قالَ الرَّجلُ التَّافِهُ في أمرِ العامَّةِ
“Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara. Lalu, Rasulullah ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (Sunan Ibnu Majah).
Dajjal tidak selalu hadir dalam sosok yang mengerikan sebagaimana digambarkan di akhir zaman. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka bisa saja berwujud manusia biasa—mungkin saja orang-orang di sekitar kita, atau bahkan diri kita sendiri. Yang menjadi ciri utama dari para “Dajjal” ini adalah kecenderungannya menyebarkan kebohongan, memanipulasi data, serta membuat plesetan dan candaan yang tampak lucu namun sesungguhnya menyesatkan dan penuh racun fitnah.
Dajjal-dajjal itu bisa berupa oknum jurnalis yang dengan sengaja menyebarkan informasi keliru, menyesatkan masyarakat melalui pemberitaan yang tidak bertanggung jawab. Mereka juga bisa berupa politisi yang sengaja menggiring opini publik melalui narasi palsu dan menyebar fitnah demi meraih dukungan.
Lebih parah lagi, para pejabat korup yang menyalahgunakan kekuasaan dan menggelapkan uang negara demi keuntungan pribadi atau kroni-kroninya juga termasuk dalam golongan Dajjal modern. Mereka adalah ancaman nyata bagi moral dan kesejahteraan masyarakat.
Islam secara tegas menolak dan mengecam segala bentuk kebohongan. Dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah ﷺ ditanya apakah seorang Mukmin bisa bersifat pengecut, beliau menjawab, “Bisa.” Lalu ditanya lagi apakah seorang Mukmin bisa kikir, beliau menjawab, “Bisa.” Namun ketika ditanya apakah seorang Mukmin bisa berdusta, Rasulullah menjawab dengan tegas, “Tidak.”
Dalam sebuah riwayat Nabi bersabda :
يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلَالِ كُلِّهَا إِلَّا الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ
“Seorang mukmin bisa memiliki perangai apa saja kecuali khianat dan dusta.” (HR: Ahmad).
Salah satu nilai yang sangat penting untuk dijaga adalah kejujuran. Nilai ini harus senantiasa kita rawat dan praktikkan di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun.
Sebagai seorang pedagang, godaan untuk sedikit memanipulasi informasi demi meraih keuntungan lebih besar memang besar. Namun jika kebiasaan ini meluas dan menjadi norma dalam dunia perdagangan, maka sistem bisnis secara keseluruhan akan berubah menjadi ladang kebohongan. Dalam waktu singkat, kehancuran pun menjadi tak terhindarkan.
Begitu pula dalam dunia politik, mungkin saja seseorang merasa bahwa kampanye tanpa rekayasa atau janji manis terasa kurang menarik. Tetapi ketika kebohongan mulai merasuki strategi politik dan menjadi bagian dari sistem pemerintahan, maka sistem itu perlahan-lahan akan runtuh dari dalam.
Akibatnya, bukan hanya rakyat yang kehilangan kepercayaan, namun para politisi pun mulai meragukan integritas sistem yang mereka bangun sendiri. Tak jarang, mereka akhirnya terjebak dalam janji dan kebohongan yang pernah mereka lontarkan sendiri.
Dalam riwayat lain disebutkan:
ثلاثة لا يكلمهم الله ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم ؛ أشيمط زان، وعائل مستكبر، ورجل جعل الله بضاعته لا يشتري إلا بيمينه ولا يبيع إلى بيمينه رواه الطبراني بسند صحيح.
“Dari Shahabat Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata:”Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah (pada hari kiamat) dan tidak disucikan-Nya dan bagi mereka adzab yang pedih ( yaitu); orang yang sudah beruban (tua) yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli kecuali dengan bersumpah (dengan nama-Nya) dan tidaklah ia menjual kecuali dengan bersumpah (dengan nama-Nya).” (HR: Thabrani).
Sebaik-baik di kalangan manusia adalah yang digambarkan Allah di dalam ayatnya ini:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang Mumin, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak, dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.” (QS: an-Nisaa: 135).*












