Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Alhamid, menyampaikan seruan keras agar bangsa Indonesia melakukan tobat nasional. Seruan ini, menurutnya, bukan sekadar ajakan spiritual, melainkan juga panggilan moral dan kebangsaan di tengah kondisi rakyat yang semakin sulit.
Habib Umar menegaskan bahwa dosa-dosa pemimpin masa lalu tidak hilang begitu saja, melainkan menjadi beban yang turut dipikul oleh pemimpin yang sedang berkuasa. Oleh karena itu, presiden dan jajaran pejabat negara saat ini harus berani mengakui, menyesali, serta memperbaiki kesalahan yang telah menyengsarakan rakyat.
“Dosa pemimpin masalah lalu ditanggung pemimpin sekarang. Presiden juga harus bertobat. Tobat nasional itu bukan berarti menghapus hukum. Tidak boleh melakukan hal yang bertentangan dengan norma dan hukum yang berlaku,” ujar Habib Umar dalam pernyataannya, Ahad (14/9/2025).
Dalam pandangan Habib Umar, tobat nasional tidak boleh dimaknai sebatas jargon atau ritual seremonial belaka. Tobat yang sesungguhnya harus diwujudkan dalam tindakan nyata: mengembalikan apa yang diperoleh dengan cara tidak benar, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, serta menunjukkan keberpihakan pada rakyat kecil.
“Kalau ada yang didapatkan tidak baik, harus dikembalikan. Itu akan menjadi beban. Sekarang rakyat sedang sulit, tetapi para pemimpin dan elite malah tidak simpati, bahkan justru menyengsarakan rakyat. Padahal uang mereka hasil merampok dari rakyat,” tegasnya.
Habib Umar memperingatkan bahwa tidak ada rekayasa manusia yang bisa melawan kehendak Allah. Segala kezaliman yang dilakukan penguasa, menurutnya, pada akhirnya akan mendapat balasan.
“Ingat, rekayasa Allah tak bisa kalian lawan,” kata Habib Umar dengan lantang.
Habib Umar tidak hanya menyoroti pejabat negara, tetapi juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, tokoh agama, elite partai politik, hingga kalangan pengusaha untuk turut melakukan tobat nasional. Ia menilai, persoalan bangsa tidak bisa selesai hanya dengan perubahan kebijakan, melainkan juga membutuhkan perubahan hati, moral, dan sikap dari semua pihak.
“Penguasa, pejabat, rakyat, tokoh agama, elite partai, pengusaha, semua harus bersama-sama memohon ampun kepada Allah agar bangsa ini terhindar dari bala, mubahala, dan musibah,” ujarnya.
Menurut Habib Umar, hanya dengan kerendahan hati untuk bertobat dan memperbaiki diri, bangsa Indonesia bisa keluar dari krisis kepercayaan antara rakyat dan pemimpin. Ia berharap momentum ini bisa menjadi titik balik bagi republik agar kembali damai, aman, dan tenteram.
Habib Umar menutup seruannya dengan doa agar Indonesia terbebas dari berbagai cobaan dan kembali menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang religius, beradab, dan penuh solidaritas. Ia menekankan pentingnya membangun kembali komunikasi antara pemerintah, pejabat, dan rakyat dengan semangat gotong royong.
“Harapan kita semua, agar republik ini kembali baik, tak ada lagi gangguan dari dalam maupun luar. Supaya penguasa, pejabat, dan rakyat kembali saling percaya serta bisa bekerja sama demi masa depan bangsa,” pungkasnya.












