News  

GMPP Gelar Adu Gagasan di Wonosobo, Rocky Gerung, Jumhur hingga Sabrang Bicara Masa Depan Indonesia

Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) menggelar Maiyah Kebangsaan di Kampus UNSIQ Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembukaan Tunas Bumi Festival yang diprakarsai GMPP bersama Jaga Tunas Bumi (JATUBU).

Diskusi kebangsaan yang dihadiri sekitar 1.000 mahasiswa itu menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Pendidik Bangsa Rocky Gerung, Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Kementerian Pertahanan Sabrang Mowo Damar Panuluh, serta Menteri Lingkungan Hidup RI M. Jumhur Hidayat.

Diskusi dipandu wartawan senior Hersubeno Arief.

Sejumlah tokoh lainnya juga hadir, seperti Prof. Dr. Yuddi Chrisnandi, Prof. Dr. Anter Venus, Indra Jaya Piliang, Andrianto selaku Dewan Penasehat GMPP, serta Taufik Tantan Lubis.

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menyoroti maraknya hoaks dan perang opini di era digital. Sabrang menjelaskan bagaimana algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram dapat memengaruhi perilaku masyarakat secara luas.

Rocky Gerung kemudian menyoroti sejumlah informasi yang menurutnya merupakan hoaks dan propaganda negatif terhadap program pemerintah, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mencontohkan isu yang menyebut sebagian besar koperasi desa yang dicanangkan pemerintah justru dibangun di tengah hutan.

“Sinisme kita saat ini telah mendahului akal sehat kita,” kata Rocky.

Menurut Rocky, narasi negatif terhadap program pemberdayaan masyarakat desa berpotensi membuat masyarakat kehilangan kepercayaan diri untuk membangun kemandirian ekonomi.

Ia menilai masyarakat selama ini terlalu bergantung pada sistem ekonomi yang ia sebut sebagai “mikrokapitalisme”, yang pada akhirnya lebih banyak menguntungkan pusat-pusat bisnis besar dibandingkan menghidupkan ekonomi desa.

Rocky Gerung juga menjelaskan alasan dirinya mendukung gagasan Presiden Prabowo Subianto mengenai pembangunan kemandirian ekonomi desa.

Ia menegaskan dukungannya bukan karena kepentingan politik praktis.

“Saya bukan anak buah Prabowo, bukan anggota GMPP. Saya adalah anak buah konstitusi dan anak buah sosialisme,” tegas Rocky.

Menurut dia, pembangunan Indonesia sejak awal memiliki mandat konstitusional untuk mencegah dominasi kapitalisme, tanpa harus mematikan mekanisme pasar.

“Indonesia didirikan dari awal untuk menghalangi meluasnya kapitalisme, bukan menghalangi pasar. Pasar mengatur efisiensi, sedangkan kapitalisme mengunci efisiensi itu hanya demi angka,” ujarnya.

Rocky menilai sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo yang berorientasi pada kepentingan sosial masyarakat merupakan upaya menghidupkan kembali amanat konstitusi.

Ia juga menanggapi kritik yang meminta program MBG dan koperasi dihentikan karena dinilai berpotensi menjadi lahan korupsi.

“MBG dan koperasi ada di dalam konstitusi. Jika ada korupsi, berantas korupsinya, tangkap koruptornya, bukan membatalkan programnya,” kata Rocky.

“Kalau kukumu busuk, kenapa jempolmu yang mesti dipotong?” sambungnya.

Sementara itu, Sabrang Mowo Damar Panuluh mengajak generasi muda Wonosobo untuk tidak hanya menjadi pengikut arus.

Menurutnya, generasi muda harus mampu menciptakan perubahan dan menentukan arah, bukan hanya mengikuti keadaan yang sudah terbentuk.

“Kegagalan terbesar generasi muda dan pemuda saat ini adalah ketika mereka tidak bisa membangun cuaca, melainkan hanya ikut cuaca,” ujar Sabrang.

Pesan tersebut ditujukan agar mahasiswa dan anak muda memiliki keberanian untuk membangun gagasan, menciptakan peluang, sekaligus mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Kakornas GMPP Mantep Abdul Ghani juga mengajak pemuda Wonosobo untuk tidak melihat keterbatasan daerah sebagai penghalang kemajuan.

Menurutnya, Wonosobo memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Justru banyak sekali peluang untuk meningkatkan kemakmuran di Wonosobo, saya sudah membuktikannya,” kata Mantep.

Dewan Penasehat GMPP Andrianto mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk pendidikan politik dan ruang diskusi publik untuk mendorong masyarakat memahami kebijakan pemerintah secara lebih kritis.

“Yang dipaparkan Rocky Gerung sangat bersesuaian dengan fakta,” ujar Andrianto.

Maiyah Kebangsaan tersebut kemudian ditutup dengan penampilan grup musik KiaiKanjeng. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan tiga tahun GMPP sekaligus momentum untuk mempertemukan mahasiswa, aktivis, akademisi, dan tokoh nasional dalam diskusi mengenai masa depan ekonomi desa, konstitusi, serta arah pembangunan Indonesia.