Gelombang desakan publik agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mundur dari jabatannya kian tak terbendung. Setelah dinilai gagal mengendalikan situasi demonstrasi dalam sepekan terakhir, kini muncul isu baru yang menambah panas suasana: rumor kepemilikan saham anak Kapolri di PT Position, perusahaan yang beroperasi di Halmahera Timur.
Aktivis reformasi 1998 sekaligus akademisi, Ubedilah Badrun, serta Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, telah lebih dulu menyerukan agar Listyo Sigit segera mengundurkan diri. Dorongan serupa juga datang dari Aliansi Mahasiswa Aceh Tenggara Bersatu dan sejumlah koalisi masyarakat sipil yang mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah tegas mencopot Kapolri.
Namun, menurut Uchok, sikap Presiden yang terkesan menunda langkah justru menunjukkan ketidakberanian.
“Baru kali ini ada seorang TNI takut sama Polisi. Biasa seorang TNI sangat pede dan berani jika berhadapan dengan seorang Polisi,” sindirnya.
Di tengah sorotan tersebut, isu baru kian mengusik. Koalisi Save Maba Sangaji menilai rumor kepemilikan saham anak Kapolri di PT Position berpotensi memengaruhi objektivitas penyidikan kasus kriminalisasi terhadap 11 warga Desa Maba Sangaji.
“Rumor ini ramai terdengar di Halmahera Timur dan bisa jadi faktor utama kriminalisasi 11 warga desa Maba Sangaji. Ini yang harus dijelaskan Kapolri Sigit. Jangan sampai hanya sekedar rumor,” tegas Guntur Harahap, juru bicara koalisi itu, Kamis (4/9).
Guntur mengingatkan bahwa di tengah kegagalan aparat dalam merespons demonstrasi nasional, isu saham anak Kapolri menambah catatan buruk terhadap citra kepolisian. “Kapolri harus meluruskan kabar ini. Publik butuh kejelasan, bukan sekadar rumor,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Mabes Polri maupun PT Position terkait kabar kepemilikan saham tersebut. Namun, desakan agar Listyo Sigit mundur diyakini akan terus menguat seiring berkembangnya rumor yang memicu pertanyaan besar di masyarakat: Mampukah Kapolri bertahan di tengah badai isu politik dan dugaan bisnis keluarganya?












