Netty Prasetiyani Ingatkan MBG Bisa Gagal Tanpa Pengawasan Orang Tua dan Sekolah

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dan sekolah dalam mengawasi kualitas makanan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, pengawasan kolektif ini menjadi bagian penting dari keberhasilan program prioritas pemerintah tersebut.

“Keterbukaan informasi kepada masyarakat akan menumbuhkan rasa percaya dan partisipasi dalam menjaga keberlangsungan program ini,” kata Netty di Jakarta, Senin (29/9/2025).

Netty menegaskan dukungan DPR terhadap keberlanjutan MBG, namun dengan syarat perbaikan sistemik agar insiden keracunan tidak terulang.

“Mari kita jadikan insiden ini sebagai momentum untuk memperkuat kualitas pelaksanaan MBG, sehingga benar-benar menjadi instrumen peningkatan gizi dan kesehatan anak bangsa,” ujarnya.

Dua Risiko Besar MBG
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut ada dua risiko besar dalam pelaksanaan MBG. Pertama, potensi penyalahgunaan anggaran. Kedua, gangguan kesehatan akibat makanan yang tidak diolah dengan baik.

“Terus terang ada dua risiko besar, yaitu penyalahgunaan anggaran dan gangguan kesehatan. Dari dua itu, saya lebih takut yang nomor dua,” kata Dadan dalam Podcast Jurnalistik Inilah.com, Minggu (28/9/2025).

Ia menjelaskan, rantai pengolahan makanan yang panjang menjadi tantangan tersendiri, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah. Risiko juga muncul saat makanan terlambat dikonsumsi atau dibawa pulang oleh siswa.

“Kadang bahan bakunya sudah jelek, saat dimasak ada gangguan teknis, lalu telat dimakan. Anak-anak ada yang bawa pulang, sehingga kesegarannya berkurang,” jelasnya.

Momentum Perbaikan
Baik DPR maupun BGN sepakat bahwa evaluasi MBG harus menyeluruh, bukan hanya untuk mencegah keracunan, tetapi juga menjaga kredibilitas program yang bertujuan meningkatkan gizi anak.(Sumber)