News  

Drama Purbaya

Akhirnya, publik mulai sadar bahwa semua langkah dan ucapan Purbaya hanyalah bagian dari skenario besar yang sudah ia tulis sendiri. Di layar kaca, ia tampak seperti pahlawan baru yang peduli rakyat. Tapi di balik senyum dan pidatonya yang manis, tersimpan kalkulasi dingin tentang citra dan posisi politik. Ia menebar janji seperti selebaran di musim kampanye, sementara pelaksanaannya selalu tertunda dengan alasan “koordinasi lintas sektor.” Rakyat mulai bosan dengan kalimat yang terdengar rapi tapi kosong makna.

Gebrakan-gebrakan yang ia banggakan pun kini hanya tinggal manis di bibir. Semua yang digembar-gemborkan sebagai “reformasi” tak lebih dari permainan kata untuk menutupi mandeknya kerja nyata. Ia sibuk menata panggung, bukan membenahi sistem. Yang terlihat bukanlah hasil, melainkan usaha mempertahankan perhatian. Dan semakin lama, publik tahu bahwa yang sedang mereka tonton bukan kebijakan—tapi pertunjukan yang dikemas rapi agar terlihat heroik.

Namun, bahkan setelah tirai turun, Purbaya masih berusaha berdiri di tengah panggung, menolak keluar. Ia tersenyum canggung, seolah meyakinkan diri bahwa tepuk tangan akan kembali terdengar jika ia cukup lama bertahan. Tapi publik sudah berpaling. Kamera telah dimatikan, mikrofon dicabut, dan pencahayaan panggung padam. Yang tersisa hanyalah gema kata-kata yang dulu ia ucapkan sendiri: “semua demi rakyat.” Ironisnya, rakyatlah yang kini paling jauh darinya.

Di luar panggung, kehidupan terus berjalan tanpa naskah. Petani tetap menanam, buruh tetap bekerja, pedagang tetap berjuang melawan harga yang tak masuk akal. Mereka semua tahu bahwa yang menentukan masa depan bukan lagi janji pejabat, tapi daya tahan mereka sendiri. Di situlah sandiwara Purbaya benar-benar usai—bukan karena plot berakhir, tapi karena penonton telah pergi mencari kenyataan yang lebih jujur.

Beberapa waktu kemudian, kabar tentang Purbaya mulai meredup. Media tak lagi ramai memberitakan gebrakan barunya, sebab semua sudah tahu: itu hanya variasi dari naskah lama yang terus diulang dengan setting berbeda. Di kantor berita, redaktur bahkan mulai bosan menulis tentangnya—karena setiap janji terasa seperti kalimat yang pernah dicetak sebelumnya, hanya tanggalnya yang berganti.

Tapi di tengah senyap itu, muncul bisik-bisik kecil dari rakyat. Mereka tak lagi marah, hanya kecewa yang sunyi. Kekecewaan itu lebih dalam dari sekadar kehilangan kepercayaan; itu adalah luka karena pernah percaya. Purbaya mungkin tak pernah sadar betapa dalam dampak sandiwaranya—bagaimana harapan rakyat dijadikan properti panggung, lalu dibuang setelah sorot kamera padam. Ia telah menjadikan kesungguhan orang kecil sebagai alat untuk membangun citra besar yang rapuh.

Kini, sejarah menunggu saatnya menulis kesimpulan. Mungkin nanti, saat generasi baru membaca kisahnya, mereka akan memahami bahwa kekuasaan tanpa kejujuran hanyalah pertunjukan panjang tanpa makna. Dan Purbaya, yang dulu berdiri gagah di tengah sorot lampu, akan dikenang bukan karena keberaniannya, tapi karena aktingnya. Sebuah pelajaran yang mahal, tentang betapa mudahnya sandiwara menggantikan kerja nyata, dan betapa cepatnya kepercayaan rakyat hilang ketika kebenaran disembunyikan di balik dialog yang indah.

Oleh: Rokhmat Widodo, pengamat politik