Menyadari cepatnya perubahan lanskap politik di era disrupsi digital, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi sukses menggelar program Visiting Scholar yang berfokus pada penguatan literasi politik di kalangan generasi muda. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 10 Desember 2025 ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman politik yang kritis, analitis, dan beretika di tengah derasnya arus informasi digital.
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan UNISMA Bekasi, Ainur Rofieq, M.I.P., menegaskan, pendidikan politik saat ini harus beradaptasi dengan realitas baru masyarakat digital. Menurutnya, anak muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten yang berpotensi memengaruhi opini publik.
“Anak muda hari ini adalah warga negara digital. Mereka menerima informasi secara instan, namun pada saat yang sama rentan terhadap hoaks dan disinformasi. Program Visiting Scholar ini kami rancang untuk menjembatani kesenjangan antara konsumsi informasi digital dengan pemahaman politik yang substansial. Program Studi Ilmu Pemerintahan berkomitmen melahirkan pemilih cerdas dan partisipan politik yang bertanggung jawab,” ujar Ainur Rofieq.
Kegiatan ini menghadirkan Mouliza Kristhopher Donna Sweinstani, S.I.P., M.I.P., peneliti Politik dan Pemuda dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai narasumber utama. Bertempat di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Islam 45, diskusi berlangsung interaktif dengan peserta yang merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan dari semester 1 hingga semester 7.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah dosen Ilmu Pemerintahan UNISMA Bekasi, di antaranya Dr. Andi Sopandi, M.Si., Susi Dian Rahayu, S.I.P., M.I.P., dan Elvira Suryani, S.I.P., M.Si., yang ikut mendampingi jalannya diskusi akademik.
Dalam pemaparannya, Mouliza menyoroti paradoks partisipasi politik generasi muda, khususnya Generasi Z. Ia menilai bahwa meskipun generasi muda saat ini memiliki akses informasi yang luas, hal tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas partisipasi politik.
“Anak muda, terutama Generasi Z, merupakan generasi yang melek informasi. Namun ada paradoks dalam partisipasi politik mereka. Di satu sisi menginginkan kondisi politik yang ideal, tetapi dalam praktik memilih sering kali mengabaikan prinsip-prinsip ideal tersebut. Karena itu, anak muda harus cerdas dalam memilih dan jangan sampai hanya dijadikan sarana politik semata,” tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi diskusi dan tanya jawab. Salah satu mahasiswa, Mutiarani, mengaku kegiatan ini memberikan perspektif baru dalam menyikapi isu politik di ruang digital.
“Materi yang disampaikan sangat relevan dengan tantangan yang kami hadapi sehari-hari. Saya jadi lebih berhati-hati dalam menyebarkan konten politik dan lebih percaya diri berdiskusi tentang isu-isu kompleks. Program ini benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap politik,” ungkapnya.
Ia juga sempat mempertanyakan peran sistem politik dalam mendorong partisipasi anak muda serta bentuk keterlibatan politik yang dapat dilakukan secara nyata.
Ke depan, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UNISMA Bekasi berharap program Visiting Scholar ini menjadi fondasi awal dalam membangun ekosistem pendidikan politik yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan akademisi, peneliti, dan lembaga riset, UNISMA Bekasi berkomitmen menjadikan literasi politik sebagai bagian penting dari pengembangan kapasitas generasi muda Indonesia.
“Kami akan terus memperluas inisiatif serupa dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak agar literasi politik menjadi bekal utama anak muda dalam berpartisipasi secara sehat dan bertanggung jawab dalam demokrasi,” tutup Ainur Rofieq.












