News  

Ahmad Khozinudin: Pertemuan Jokowi–Pratikno di Solo Tak Sekadar Liburan, Sarat Isu Ijazah Palsu

Ahmad Khozinudin (IST)

Advokat Ahmad Khozinudin, S.H., menyatakan pertemuan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan Prof. Pratikno di Solo pada Ahad (28/12/2025) tidak bisa dipandang sebagai agenda biasa atau sekadar liburan akhir tahun. Menurutnya, pertemuan tersebut sangat kuat dikaitkan dengan upaya konsolidasi menghadapi lanjutan polemik dugaan ijazah palsu Jokowi yang kini terus bergulir di ruang publik.

“Secara hierarki struktural, Pratikno bukan bawahan Jokowi. Tetapi dalam konteks kasus dugaan ijazah palsu, Pratikno adalah figur yang dianggap memiliki peran penting,” ujar Ahmad Khozinudin dalam pernyataan tertulisnya, Senin (29/12/2025).

Khozinudin menyinggung pernyataan Prof. Yudhie Haryono yang sebelumnya menyebut Pratikno sebagai aktor tunggal di balik dugaan pemalsuan ijazah Jokowi. Tuduhan itu memang telah dibantah Pratikno, yang menegaskan keabsahan ijazah Jokowi sebagai produk resmi Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun bantahan tersebut, menurut Khozinudin, belum cukup menjawab kegelisahan publik.

“Jika benar ada peran Pratikno di belakang layar, maka kasus ini menjadi jauh lebih berat. Sebab otoritas lain di UGM merasa data yang mereka rilis adalah benar, padahal ada dugaan ‘kutak-katik’ di belakangnya,” tegasnya.

Khozinudin menilai Jokowi saat ini menghadapi situasi politik dan hukum yang tidak sederhana. Lawan yang dihadapi bukan aktor politik yang mudah dikendalikan, melainkan Roy Suryo dan sejumlah advokat berlatar belakang aktivis, serta jutaan rakyat yang memiliki keyakinan serupa.

“Jokowi bukan hanya berhadapan dengan Roy Suryo cs, tetapi dengan jutaan rakyat yang meyakini ijazah Jokowi palsu. Dasar keyakinan itu sederhana: publik tidak percaya foto pria berkacamata dalam ijazah tersebut adalah foto Jokowi,” kata Khozinudin.

Ia juga menyinggung momentum gelar perkara khusus pada 15 Desember 2025, yang menurutnya menjadi titik terang bagi publik. Dalam gelar perkara itu, ijazah yang diperlihatkan disebut identik dengan ijazah yang selama ini beredar di media sosial maupun yang tersimpan di KPU dan KPUD.

“Justru setelah ijazah itu diperlihatkan, semakin jelas bagi publik bahwa dokumen tersebut bermasalah. Foto dalam ijazah dinilai bukan Jokowi,” ujarnya.

Terkait klaim bahwa Roy Suryo dan kawan-kawan telah meminta maaf, Khozinudin menyebut narasi tersebut sebagai framing yang gagal. “Roy Suryo dkk tidak pernah meminta maaf. Kalau tidak ada yang meminta maaf, lalu siapa yang mau dimaafkan?” katanya.

Menurut Khozinudin, dalam situasi ini seharusnya Jokowi yang meminta maaf kepada rakyat Indonesia jika terbukti telah menyampaikan informasi yang tidak benar selama ini.

“Atas dasar itulah, saya menduga kuat pertemuan Jokowi dan Pratikno di Solo bukan sekadar silaturahmi. Ada kepentingan besar untuk mengantisipasi pertarungan lanjutan kasus dugaan ijazah palsu,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari Jokowi maupun Pratikno terkait agenda dan isi pertemuan tersebut. Namun sorotan publik terhadap kasus dugaan ijazah palsu dinilai akan terus menguat seiring sikap tertutup kedua tokoh tersebut.