Reliji  

Inilah 3 Macam Penuntut Ilmu

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah membagi manusia dalam beribadah kepada Allah menjadi tiga golongan. Pertama, mereka yang beribadah seperti budak (‘abd). Kedua, seperti pedagang (tājir). Dan ketiga, seperti pecinta (muḥibb).

Menuntut ilmu dalam Islam juga termasuk bentuk ibadah yang sangat mulia. Bahkan, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, pembagian yang disampaikan Sayyidina Ali juga dapat dianalogikan pada para penuntut ilmu.

Pertama, penuntut ilmu yang seperti budak. Mereka belajar hanya karena dorongan luar—takut pada guru, patuh pada orang tua, atau sekadar ingin menyelesaikan tugas. Ketika tidak ada perintah atau pekerjaan rumah, semangat belajarnya pun mengendur. Pola ini sering ditemui pada anak-anak yang baru memulai perjalanan menuntut ilmu.

Peran orang tua dan guru sangat penting untuk mengangkat semangat belajar dari tingkat “budak” menjadi “pecinta”. Caranya, dengan mendoakan mereka, menanamkan kecintaan pada ilmu, dan mengenalkan kisah para ulama yang merasakan manisnya menuntut ilmu.

Kedua, penuntut ilmu seperti pedagang. Mereka belajar hanya jika ada keuntungan yang bisa diraih—entah hadiah, perlombaan, ujian, atau peluang duniawi lainnya. Semangat seperti ini bersifat sementara dan bisa menjerumuskan di akhirat jika tujuannya hanya dunia. Sebaliknya, jika belajar demi pahala dan kemuliaan di sisi Allah, maka itu menjadi amal yang bernilai tinggi.

Fenomena ini masih sering terlihat di dunia pendidikan modern. Penulis mencontohkan sebuah baliho lembaga pendidikan Islam di Jember yang lebih menonjolkan janji “kemudahan diterima kerja” dan “peluang masuk perguruan tinggi ternama” daripada kemuliaan ilmu agama itu sendiri.

Kondisi ini menunjukkan betapa pendidikan masa kini sering terjebak pada orientasi duniawi, menjauh dari ruh keikhlasan dan tujuan sejati menuntut ilmu dalam Islam—yakni untuk mencari ridha Allah dan memuliakan agama.

Padahal Rasul ﷺ sudah menegaskan dalam haditsnya di kitab Ta’limul Muta’allim :

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة ثُمَّ يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة

Artinya: “Banyak amalan yang tampak sebagai perbuatan duniawi berubah menjadi perbuatan ukhrawi lantaran niat yang bagus. Banyak pula amalan yang terlihat sebagai perbuatan ukhrawi berubah menjadi perbuatan duniawi lantaran niat yang buruk.”

Ketiga, penuntut ilmu seperti pecinta. Golongan ini adalah mereka yang telah merasakan kemuliaan ilmu dan memahami pahitnya kebodohan. Mereka mensyukuri akal yang dianugerahkan Allah, dan menjadikan pencarian ilmu sebagai wujud cinta kepada-Nya.

Penuntut ilmu pada tingkat ini memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Hampir seluruh hidupnya diisi dengan belajar, membaca, menulis, dan menghadiri majelis ilmu. Tak heran, para ulama terdahulu dikenal sangat menghargai waktu. Sebagian di antara mereka bahkan memilih makanan yang mudah dikunyah agar tidak banyak menyita waktu makan.

Sejarah mencatat, banyak ulama besar yang menjadikan hidupnya sepenuhnya untuk ilmu. Imam Nawawi, misalnya, dalam sehari mampu menghadiri hingga dua belas majelis ilmu. Sementara Imam Syafi’i membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga untuk beristirahat.

Tingkat cinta terhadap ilmu seperti inilah yang menjadikan para ulama klasik mampu meninggalkan warisan keilmuan besar bagi umat Islam hingga kini—sebuah teladan bahwa ilmu, bila dikejar dengan cinta dan keikhlasan, akan memuliakan pemiliknya di dunia dan akhirat.

وقال الربيع بن سليمان: «كان الشافعي جزَّأ الليل ثلاثة أجزاء: الأول يكتب، والثاني يصلي، والثالث ينام».

Rabi bin Sulaiman berkata, “Imam Syafi’i membagi malam menjadi 3 bagian” : pertama, untuk menulis (kitab). Kedua, untuk shalat (ibadah). Ketiga, untuk tidur.

Imam Bukhari, ahli hadits waktu malamnya sering bangun belasan kali bahkan sampai 20 kali. Jika beliau tidur habis Isya’, maka sampai Subuh beliau bangun per 1/2 jam. Bahkan kurang dari setengah jam.

Bagi penuntut ilmu sejati, kenyamanan dunia bukan lagi ukuran. Mereka tak lagi bertanya, “Apakah tidurnya nyenyak? Apakah tidak lelah atau pusing?” — sebab kebahagiaan mereka justru terletak pada proses mencari ilmu itu sendiri.

Inilah tanda cinta sejati kepada ilmu: ketika lelah terasa manis, waktu terasa berharga, dan setiap detik yang digunakan untuk belajar menjadi sumber kebahagiaan. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk terus naik tingkat—dari belajar karena kewajiban, menuju belajar karena cinta kepada Allah dan ilmu-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.