Wisata  

Video Viral Pungli di Pelabuhan Gili Mas Bikin Malu, Merusak Citra Pariwisata NTB

Dunia maya baru-baru ini dihebohkan oleh rekaman video aksi pungutan liar di Pelabuhan Gili Mas.

Insiden ini memicu kekhawatiran besar di tengah upaya promosi pariwisata Nusa Tenggara Barat.

Video tersebut memperlihatkan perdebatan antara sopir biro perjalanan dengan oknum pengaku anggota koperasi.

Oknum tersebut memaksa pengemudi membayar uang sebesar Rp20 ribu hanya untuk menjemput tamu kapal pesiar.

Alasannya, pengemudi yang menjemput penumpang dianggap bukan merupakan bagian dari keanggotaan koperasi setempat.

Biaya tambahan ini bersifat tidak resmi dan di luar tarif masuk pelabuhan yang hanya Rp10 ribu.

Fenomena serupa rupanya bukan hal baru dan kerap ditemukan di destinasi populer seperti Pusuk Sembalun.

Di sana, pelancong seringkali dimintai uang puluhan ribu rupiah hanya untuk sekadar mengambil foto.

Kawasan Sirkuit Mandalika juga tidak luput dari praktik tarif parkir yang melambung tinggi secara tidak wajar.

Saat ajang internasional berlangsung, harga parkir kendaraan pribadi bahkan bisa menembus angka Rp100 ribu.

Jika dibiarkan, pendapatan dari pungli ini diprediksi bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam setahun.

Pemerintah diingatkan untuk tidak hanya memasang spanduk imbauan tanpa adanya tindakan nyata di lapangan.

Aparat penegak hukum perlu memberikan sanksi berat agar memberikan efek jera bagi para oknum.

Pasal 368 KUHP tentang pemerasan sebenarnya bisa menjerat pelaku dengan ancaman penjara hingga sembilan tahun.

Selain itu, jika melibatkan petugas resmi, pelaku bisa terjerat undang-undang tindak pidana korupsi yang lebih berat.

Transformasi digital melalui sistem pembayaran elektronik dianggap menjadi solusi paling efektif saat ini.

Dengan tarif yang dipublikasi secara transparan, ruang gerak bagi oknum pemungut liar akan semakin sempit.

Edukasi kepada masyarakat lokal melalui Kelompok Sadar Wisata juga harus terus ditingkatkan secara konsisten.

Lombok sebagai destinasi unggulan harus dijaga integritasnya agar visi pariwisata berkualitas tetap terjaga.

Keberlanjutan industri wisata sangat bergantung pada rasa aman dan kenyamanan para pengunjung yang datang.***