Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menyoroti tren penurunan angka pernikahan nasional yang tak kunjung berhenti sejak 2013. Ia menegaskan kondisi pribadi yang dialaminya belakangan ini tak bisa dijadikan rujukan.
“Apa yang terjadi pada saya tentu bukan menjadi contoh begitu ya, tapi yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bagi kita semua bahwa ternyata terkait dengan angka pernikahan ini ternyata terus turun sejak 2013,” kata Atalia dalam rapat kerja dengan Menteri Agama di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1).
Atalia membeberkan, secara kumulatif sepanjang 2021 hingga 2024, angka pernikahan nasional merosot sekitar 15,1 persen. Ia menilai angka itu menjadi sinyal adanya pergeseran besar dalam pola pembentukan keluarga di Indonesia.
Ia pun mengingatkan agar Indonesia tak mengikuti jejak sejumlah negara yang lebih dulu mengalami krisis pernikahan.
“Kita tidak mau seperti Korea Selatan misalkan, ini Korea Selatan ini turun sebanyak 50 persen. Kemudian juga Jepang turunnya 21,1 persen. China juga 20 persen,” katanya.
Atalia mengapresiasi berbagai program Kementerian Agama dalam menyiapkan calon pengantin, mulai dari Tepuk Sakinah hingga pembinaan pra-nikah. Namun ia menekankan, ketahanan keluarga tak kalah krusial, terutama bagi generasi muda.
“Ada Tepuk Sakinah, kemudian banyak sekali program-program penyiapan calon pengantin begitu ya. Saya kira ini patut diapresiasi, tapi nampaknya ketahanan keluarga juga menjadi penting. Supaya betul-betul khususnya anak muda kita, mereka memiliki istilahnya pembekalan yang baik, begitu. Terkait dengan bagaimana pentingnya institusi pernikahan ini untuk dioptimalkan seperti itu,” ujarnya.(Sumber)












