News  

Rizal Fadillah Kritik Keras Dugaan Kedekatan Prabowo–Netanyahu dan Isu “Blood of Peace”

Pemerhati politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah melontarkan kritik tajam terhadap Presiden RI Prabowo Subianto terkait isu hubungan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam tulisan opininya bertajuk “Prabowo Berteman Netanyahu? Gulingkan!”, Rizal menyoroti narasi mengenai pertemuan yang disebut berlangsung dalam forum “Blood of Peace” (BoP) yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat (21/2/2026).

Menurut Rizal, kedekatan dengan Netanyahu berpotensi melukai perasaan mayoritas rakyat Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Ia menyebut Netanyahu sebagai sosok yang kontroversial dalam konflik Israel–Palestina dan menyinggung adanya proses hukum di International Criminal Court (ICC) terhadap pemimpin Israel tersebut.

Rizal juga mengaitkan isu tersebut dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang secara konstitusional mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Ia menilai, jika benar terjadi kedekatan politik yang intens, hal itu dapat memunculkan persepsi publik bahwa pemerintah tidak konsisten dengan prinsip bebas aktif dan dukungan terhadap Palestina.

Dalam opininya, Rizal mengingatkan bahwa legitimasi politik seorang presiden sangat bergantung pada kepercayaan rakyat. Ia bahkan menyebut potensi munculnya desakan politik, termasuk wacana pemakzulan (impeachment), apabila publik menilai telah terjadi penyimpangan dari amanat konstitusi.

Tulisan tersebut juga memuat kritik terhadap gaya kepemimpinan Prabowo yang dinilai inkonsisten dalam berbagai forum, baik saat berbicara dengan oposisi, aparat keamanan, maupun kelompok elite ekonomi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Istana terkait tudingan dalam opini tersebut. Pemerintah Indonesia sendiri selama ini secara resmi tetap menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan mendorong solusi dua negara sebagai jalan damai konflik Israel–Palestina.

Isu ini diperkirakan akan terus menjadi perdebatan publik, mengingat sensitivitas hubungan Indonesia dengan Israel serta kuatnya solidaritas masyarakat Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.