Guru Besar Komunikasi dari Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto, mengingatkan bahwa dalam strategi peperangan modern, sasaran serangan tidak lagi terbatas pada pangkalan militer atau fasilitas tempur. Pusat riset dan pengembangan teknologi juga menjadi target utama karena dianggap sebagai sumber kekuatan masa depan suatu negara.
Menurutnya, dalam banyak konflik global, fasilitas penelitian sering menjadi sasaran penghancuran untuk melemahkan kemampuan inovasi teknologi suatu negara.
“Dalam perang, salah satu sasaran yang harus dihancurkan adalah pusat riset pengembangan teknologi, termasuk teknologi persenjataan atau teknologi lain yang bisa membuat sebuah negara lebih maju dan unggul dibanding negara lain,” ujar Henri dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).
Ia mencontohkan serangan yang baru-baru ini terjadi di wilayah Negev, tempat berdirinya pusat riset teknologi Israel.
Salah satu fasilitas yang disebut-sebut menjadi sasaran adalah taman riset teknologi Gav‑Yam Negev Advanced Technologies Park yang berada di dekat Ben‑Gurion University of the Negev di Negev Desert. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat inovasi teknologi tinggi Israel yang berhubungan dengan industri keamanan siber, kecerdasan buatan, hingga teknologi militer.
Serangan tersebut disebut berasal dari rudal yang ditembakkan oleh Iran dalam eskalasi konflik dengan Israel.
Jika skenario konflik serupa terjadi di Indonesia, Henri menilai ada sejumlah pusat riset strategis yang secara hipotetis bisa menjadi target musuh karena perannya dalam pengembangan teknologi nasional.
Salah satu yang paling menonjol adalah fasilitas milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga ini mengintegrasikan berbagai riset strategis nasional mulai dari teknologi nuklir, kecerdasan buatan, hingga teknologi pertahanan.
Kompleks riset BRIN di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, misalnya, dikenal memiliki berbagai laboratorium penelitian strategis yang sebelumnya dikelola oleh lembaga seperti BATAN dan LIPI.
Selain itu, fasilitas pengembangan teknologi militer milik PT Dirgantara Indonesia di Bandung juga dinilai sebagai salah satu titik vital. Perusahaan ini berperan dalam pengembangan pesawat dan teknologi kedirgantaraan nasional.
Tak kalah strategis adalah fasilitas milik PT Pindad di Bandung yang mengembangkan berbagai sistem persenjataan, kendaraan taktis, hingga teknologi pertahanan darat.
Di bidang kelautan dan teknologi maritim, galangan dan pusat inovasi milik PT PAL Indonesia di Surabaya juga memiliki posisi penting karena memproduksi kapal perang dan kapal selam untuk kebutuhan pertahanan nasional.
Henri menilai bahwa di era perang modern, persaingan antarnegara tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di medan teknologi.
Negara yang memiliki kemampuan inovasi tinggi dalam bidang siber, kecerdasan buatan, teknologi satelit, hingga industri pertahanan akan memiliki keunggulan strategis dalam konflik global.
Karena itu, menurutnya, negara harus memberikan perlindungan maksimal terhadap fasilitas riset dan inovasi.
“Siapa yang unggul dalam teknologi, dia yang akan menentukan arah kemenangan di masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan ekosistem riset nasional menjadi sangat penting bukan hanya untuk pembangunan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negara.
Dalam konteks global yang semakin tidak stabil, Henri menilai Indonesia harus memandang pusat riset bukan sekadar fasilitas akademik, melainkan sebagai aset strategis nasional yang menentukan posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik dunia.












