News  

Daryani: Santri, Akademisi, dan Praktisi Politik yang Mengajarkan Realitas Kekuasaan

Daryani (IST)

Di ruang kelas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, sosok Dr Daryani, S.IP., M.Si dikenal sebagai dosen yang mampu menjelaskan dunia politik dengan bahasa yang jernih dan terstruktur. Ia mudah bergaul, tutur katanya tertata rapi, dan penyampaiannya membuat mahasiswa merasa dekat dengan materi yang diajarkan.

Bagi mahasiswa, mengikuti perkuliahan yang dibawakan Daryani terasa berbeda. Ia tidak hanya menjelaskan teori marketing politik dari buku teks, tetapi juga mengaitkannya dengan fakta-fakta yang terjadi dalam praktik politik Indonesia.

Pengalaman sebagai Tenaga Ahli anggota DPR memberi warna tersendiri dalam setiap perkuliahannya. Ia memahami bagaimana strategi politik disusun, bagaimana komunikasi politik dibangun, serta bagaimana keputusan politik lahir dari berbagai kepentingan yang saling bernegosiasi.

Karena itu, ketika menjelaskan teori kepada mahasiswa, ia selalu menghadirkan pengalaman empiris yang pernah ia temui. Politik, menurutnya, tidak bisa dipahami hanya melalui konsep akademik. Realitas di lapangan sering kali jauh lebih kompleks.

Selain mengajar di IISIP Jakarta, Daryani juga aktif mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Di kampus tersebut ia juga mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan komunikasi politik dan strategi komunikasi publik.

Di dua kampus ini, ia menjadi bagian dari upaya membangun generasi mahasiswa yang tidak hanya memahami teori komunikasi dan politik, tetapi juga memiliki kemampuan membaca dinamika sosial yang berkembang di masyarakat.

Perjalanan intelektual Daryani dimulai dari lingkungan pesantren yang kuat. Ia lahir dan besar dalam tradisi pendidikan yang menempatkan ilmu sebagai jalan hidup.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Cadangpinggan Barat, Indramayu. Ia lulus pada tahun 1990 dengan prestasi yang sangat membanggakan. Nilai NEM yang diraihnya mencapai 41,61, tertinggi di Kecamatan Kertasemaya yang saat itu juga mencakup wilayah Sukagumiwang.

Pada saat yang sama ia juga menempuh pendidikan di Madrasah Salafiyah Syafi’iyah Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada tahun 1993 dengan predikat terbaik.

Sejak usia muda ia sudah menjalani kehidupan sebagai santri. Ia belajar di beberapa pesantren yang memiliki tradisi keilmuan kuat. Perjalanan nyantri dimulai di Pondok Pesantren Al-Ishlah Bobos, Dukupuntang, Cirebon.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibien atau Pondok Gede Babakan di Ciwaringin.

Perjalanan pesantrennya kemudian membawanya ke Jawa Timur, tepatnya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Di pesantren yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Nahdlatul Ulama ini ia juga menempuh pendidikan formal di MAN Tambakberas dan lulus pada tahun 1996.

Lingkungan pesantren Tambakberas memberikan pengalaman intelektual sekaligus spiritual yang kuat dalam pembentukan karakter dirinya.

Setelah menamatkan pendidikan menengah, Daryani melanjutkan studi ke Yogyakarta. Ia memilih jurusan Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1997.

Pilihan ini mempertemukannya dengan tradisi Muhammadiyah yang memiliki karakter intelektual rasional dan modern. Latar belakang pesantren yang lekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama berpadu dengan lingkungan akademik Muhammadiyah.

Perpaduan ini membentuk perspektif yang luas dalam memandang kehidupan sosial dan politik.

Selama menjadi mahasiswa di UMY, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia terlibat dalam Senat Mahasiswa dan juga dipercaya sebagai Menteri Mahasiswa. Aktivitas ini menjadi ruang latihan kepemimpinan dan memperkenalkannya pada dinamika organisasi.

Pada masa yang sama ia juga menempuh studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada periode 1998 hingga 2002.

Kombinasi kajian ilmu pemerintahan dan humaniora memperkaya cara pandangnya dalam memahami masyarakat, budaya, dan kekuasaan.

Meski menjalani kehidupan akademik di kampus, Daryani tetap mempertahankan tradisi santri. Ia nyantri di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Di pesantren tersebut ia juga aktif mengikuti kegiatan intelektual di Lembaga Kajian Islam Mahasiswa (LKIM) pada periode 1997 hingga 1999.

Diskusi keagamaan, pemikiran sosial, hingga persoalan politik sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Lingkungan Krapyak membuatnya terbiasa melihat persoalan masyarakat secara komprehensif. Ia belajar bahwa ilmu agama dan ilmu sosial dapat berjalan berdampingan.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Daryani melanjutkan studi S2 Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2004.

Ketertarikannya pada kajian politik terus berkembang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Sahid Jakarta.

Bidang kajian yang ia tekuni berkaitan dengan komunikasi politik dan strategi marketing politik.

Sebagai akademisi, ia dikenal memiliki pendekatan pengajaran yang komunikatif. Ia menjelaskan bagaimana citra politik dibangun, bagaimana strategi kampanye dirancang, dan bagaimana opini publik dapat dipengaruhi melalui komunikasi yang efektif.

Namun ia selalu menekankan pentingnya etika dalam strategi komunikasi politik.

Selain aktif di dunia akademik, Daryani juga pernah terjun ke dunia politik praktis. Ia pernah bergabung dengan Partai NasDem dan pada Pemilu 2014 sempat maju sebagai calon anggota DPR.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan merasakan langsung dinamika kontestasi politik. Ia memahami bagaimana proses kampanye berjalan, bagaimana komunikasi politik dilakukan, dan bagaimana persaingan terjadi dalam sistem demokrasi.

Pengalaman lain yang memperkaya perspektifnya adalah ketika ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli anggota DPR. Dari posisi ini ia melihat secara langsung proses legislasi di parlemen.

Ia menyaksikan bagaimana rancangan undang-undang dibahas, bagaimana perdebatan berlangsung, serta bagaimana kompromi politik menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

Semua pengalaman tersebut kini menjadi bahan refleksi dalam setiap perkuliahannya. Mahasiswa yang mengikuti kelas Dr Daryani sering merasakan bahwa materi yang ia sampaikan terasa hidup.

Ia mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan memahami politik secara rasional.

Menurutnya, demokrasi membutuhkan generasi muda yang memiliki pengetahuan politik yang memadai dan tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi.

Gaya mengajarnya yang terbuka membuat mahasiswa merasa nyaman berdiskusi. Ia tidak hanya menjadi dosen di ruang kelas, tetapi juga menjadi mentor yang bersedia berbagi pengalaman hidup.

Perjalanan hidup Daryani menunjukkan lintasan yang kaya pengalaman. Ia tumbuh dari tradisi pesantren, menempuh pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi, aktif dalam organisasi mahasiswa, terlibat dalam dunia politik praktis, dan kemudian menjadi akademisi.

Di tengah dinamika politik Indonesia yang terus berubah, sosok seperti Daryani menghadirkan satu pelajaran penting: ilmu, pengalaman, dan integritas harus berjalan bersama agar politik tetap berada di jalur yang sehat.