News  

Diarsiteki Dasco, PPJNA 98: Pertemuan Prabowo–Megawati di Istana untuk Persatuan Bangsa

Anto Kusumayuda (IST)

Pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Negara menjadi sorotan publik. Momen yang berlangsung hangat tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat persatuan nasional di tengah dinamika politik dan global yang kian kompleks.

Ketua Umum PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menegaskan bahwa pertemuan dua tokoh bangsa itu bukan sekadar silaturahmi biasa. Ia menyebut, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya konsolidasi nasional yang diarsiteki oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.

Pertemuan yang digelar di Istana, Jakarta, Kamis (19/3/2026), berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Presiden Prabowo menyambut langsung kedatangan Megawati, bahkan terlihat menggandeng tangan saat memasuki Istana—sebuah simbol kedekatan yang sarat makna politik.

Dalam pertemuan tersebut, Megawati didampingi putrinya yang juga Ketua DPR RI, Puan Maharani. Sementara Prabowo turut didampingi oleh Sufmi Dasco Ahmad. Mereka duduk satu meja dan berbincang dalam suasana akrab.

Presiden Prabowo sendiri menyebut pertemuan itu sebagai bagian dari “silaturahmi antarpemimpin bangsa”, terutama dalam momentum menjelang Idulfitri 1447 H.

Anto Kusumayuda menilai kehadiran Sufmi Dasco Ahmad bukan sekadar pendamping, melainkan aktor kunci di balik terwujudnya pertemuan tersebut. Dalam pandangannya, Dasco memainkan peran strategis sebagai jembatan komunikasi antara dua kekuatan politik besar: Gerindra dan PDI Perjuangan.

Menurutnya, langkah Dasco mencerminkan politik rekonsiliasi yang matang—tidak hanya berbasis kepentingan kekuasaan, tetapi juga kesadaran historis akan pentingnya persatuan nasional.

“Ini bukan sekadar pertemuan elite, tetapi sinyal kuat bahwa kepentingan bangsa di atas segala perbedaan politik,” ujar Anto.

Anto menilai, pertemuan Prabowo dan Megawati memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar hubungan personal. Diskusi di antara keduanya disebut menyentuh isu-isu strategis nasional hingga geopolitik global.

Dalam konteks ini, pengalaman Megawati sebagai mantan presiden dianggap menjadi referensi penting bagi Prabowo dalam menghadapi tantangan global, termasuk dinamika konflik internasional dan arah politik luar negeri Indonesia.

Pertemuan tersebut juga memperlihatkan adanya upaya membangun komunikasi lintas kekuatan politik, terutama antara eksekutif dan kekuatan legislatif yang dipimpin oleh Puan Maharani.

Bagi PPJNA 98, pertemuan ini menjadi simbol kuat bahwa elite bangsa mulai mengedepankan persatuan dibandingkan polarisasi politik yang sempat mengemuka dalam beberapa tahun terakhir.

Anto menegaskan bahwa publik membutuhkan teladan dari para pemimpin nasional. Pertemuan Prabowo dan Megawati, menurutnya, menjadi pesan moral bahwa perbedaan politik tidak boleh mengorbankan kepentingan bangsa.

“Bangsa ini besar karena persatuan. Apa yang ditunjukkan Prabowo dan Megawati adalah contoh konkret bagaimana elite politik seharusnya bersikap,” tegasnya.

Lebih jauh, pertemuan ini juga dinilai membuka peluang bagi terbentuknya stabilitas politik jangka panjang menuju 2029. Komunikasi intensif antar elite diyakini dapat meredam potensi konflik politik serta memperkuat agenda pembangunan nasional.

Dengan peran strategis tokoh-tokoh seperti Prabowo, Megawati, dan Dasco, publik kini menaruh harapan besar pada lahirnya politik yang lebih dewasa—politik yang mengedepankan dialog, kolaborasi, dan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Pertemuan di Istana itu pun bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan momentum penting dalam merajut kembali benang merah persatuan Indonesia.