Reliji  

Apa Hukum Pencitraan Dalam Agama Islam?

Di zaman sekarang, banyak orang berlomba untuk tampil baik di depan publik. Ada yang rajin menampilkan kebaikannya di media sosial, ada pula yang berperilaku manis hanya ketika orang lain melihatnya.

Fenomena ini sering kita kenal dengan istilah pencitraan – upaya menampilkan citra diri agar terlihat baik, hebat, atau saleh di mata manusia. Namun, bagaimana pandangan Islam tentang hal ini? Apakah pencitraan selalu salah, atau ada batasan yang Islam perbolehkan?

Antara Niat dan Tampilan Luar
Sobat Cahaya Islam, Islam menilai perbuatan manusia bukan dari penampilannya, tetapi dari niatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (1)

Hadis ini menjadi landasan utama dalam menilai apakah pencitraan itu terpuji atau tercela. Jika seseorang menampilkan kebaikan dengan niat menjadi teladan, menginspirasi, atau berdakwah, maka itu termasuk amal yang baik. Namun, jika dilakukan untuk mencari pujian, ketenaran, atau penghormatan dari manusia, maka hal itu termasuk riya, dan bisa merusak pahala amal.

Allah ﷻ berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (2)

Ayat ini menegaskan bahwa amal saleh harus murni karena Allah. Jika kebaikan dilakukan untuk mencari perhatian manusia, maka ibadah itu kehilangan nilai di sisi-Nya.

Hukum Pencitraan dalam Islam: Boleh atau Tidak?

Sobat Cahaya Islam, tidak semua pencitraan itu buruk. Islam justru mendorong umatnya untuk menampilkan akhlak yang baik di hadapan orang lain, selama niatnya tulus dan tidak dibuat-buat. Rasulullah ﷺ sendiri adalah sosok yang selalu tampak lembut, sopan, dan penuh senyum di hadapan siapa pun. Itu bukan pencitraan, tetapi pencerminan akhlak mulia yang lahir dari ketulusan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُم مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Kalian tidak akan bisa membuat semua orang senang dengan harta kalian, tetapi kalian bisa membuat mereka senang dengan wajah ceria dan akhlak yang baik.” (3)

Jadi, jika seseorang berusaha menampilkan diri sebagai pribadi yang ramah, jujur, dan santun karena ingin meneladani Rasulullah ﷺ, maka itu bukan pencitraan yang tercela. Itu justru amal saleh yang berpahala.

Namun, pencitraan menjadi tercela ketika seseorang menunjukkan kebaikan palsu, berakting saleh di depan umum, tapi berbuat buruk saat tak ada yang melihat. Inilah yang disebut riya’, dan Allah sangat membencinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ‘Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riya (pamer ibadah).’” (4)

Riya disebut syirik kecil karena seseorang mengalihkan niat ibadah dari Allah kepada manusia. Ia seolah beribadah, tapi sebenarnya sedang berusaha dipuji.

Melatih Keikhlasan dan Kejujuran Diri
Sobat Cahaya Islam, agar terhindar dari pencitraan yang tercela, langkah pertama adalah melatih keikhlasan. Ikhlas berarti melakukan segala sesuatu hanya karena Allah ﷻ, bukan karena penilaian orang lain.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa untuk menjaga hati agar tetap tulus:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (5)

Selain itu, biasakan berbuat baik secara diam-diam. Lakukan sedekah tanpa harus dipublikasikan, bantu teman tanpa perlu pujian, dan beribadah tanpa menunggu pengakuan. Karena Allah melihat hati, bukan tampilan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (6)

Sobat Cahaya Islam, dunia memang penuh pencitraan. Tapi seorang Muslim sejati tidak sibuk mempercantik citra di mata manusia, melainkan di mata Allah. Karena nilai sejati seseorang bukan pada penampilan atau kata-kata, tetapi pada keikhlasan amal dan kebenaran hati.

Jadi, pencitraan dalam Islam bukan tentang bagaimana orang lain melihat kita, tapi tentang bagaimana Allah menilai niat kita. Jika kebaikan dilakukan karena Allah, maka itu amal saleh. Tapi jika semata demi pujian manusia, maka itu riya yang membahayakan.

Mari kita hiasi diri dengan kejujuran dan keikhlasan, bukan kepura-puraan. Karena sesungguhnya, citra terbaik adalah ketika Allah ridha dan manusia merasakan manfaat dari kebaikan kita.