Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengkritik keras lambatnya progres pembangunan Proyek Sekolah Rakyat (SR) di Nganjuk, Jawa Timur. Saat meninjau lokasi di Kedung Cowek, Surabaya, Dody meluapkan kekecewaannya karena capaian di Nganjuk tertinggal jauh dibanding daerah lain.
Dody menilai tim teknis di lapangan tidak solutif dan justru cenderung mencari alasan saat dievaluasi.
“Nganjuk memang sangat tertinggal. Masih sekitar 15%. Yang saya tidak suka dari tim saya adalah saat saya datang justru memberikan alasan kenapa tertinggal, bukan memberikan solusi agar ketertinggalan bisa dikejar,” kata Dody, Minggu (12/4/2026).
Selain masalah progres, Dody menyoroti sikap jajaran Direktorat Jenderal Prasarana Strategis (DJPS) yang dinilai kurang tegas terhadap penyedia jasa proyek. Ketidaktegasan ini, menurutnya, memicu spekulasi negatif di masyarakat mengenai hubungan antara tim internal kementerian dengan pihak kontraktor.
“Saya agak bingung, kenapa tim saya seolah-olah takut kepada penyedia jasa. Memang ada rumor di luar bahwa penyedia jasa memberikan sesuatu kepada tim saya, tetapi itu masih sebatas rumor dan belum bisa dibuktikan. Namun, fakta di lapangan seperti yang terjadi di Nganjuk,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat adalah prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk menghapus kemiskinan ekstrem. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak menjalankan tugas dengan serius dan tanpa kompromi yang merugikan negara.
Dody mengakui kinerja para pihak terkait dalam proyek ini membuatnya kesal. Ia bahkan menyebut, jika usianya lebih muda, akan lebih sulit baginya untuk mengendalikan emosi melihat ketidakseriusan tersebut.
Dia mengingatkan agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja secara profesional. Ia meminta jajarannya mendukung penuh keberhasilan program pemerintah dan tidak bermain-main dalam menjalankan tugas di lapangan(Sumber)












