Keputusan TNI Angkatan Laut (TNI AL) untuk memperkecil penggunaan bahan bakar minyak (BBM) lewat pengerahan drone dan kapal selam otonomus (KSOT) untuk patroli laut menuai sorotan.
Pengamat Militer dari Universitas Pertahanan (Unhan), Ade Muhammad, menilai transisi teknologi ini muncul karena situasi yang mendesak, namun mungkin saja berdampak positif pada kreativitas pertahanan.
“Jadi sebenarnya saya melihat ini sebagai ‘The Power of Kepepet’ bangsa kita berinovasi untuk mengatasi keterbatasan sekaligus memperkuat fungsi intai militer,” kata Pengamat Militer dari Universitas Pertahanan Ade Muhammad saat dihubungi Inilah.com, di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Ade berpendapat, drone merupakan sebuah keniscayaan dalam pertahanan masa kini. Meski begitu, dia melihat langkah TNI AL memanfaatkan drone dan kapal selam otonom (KSOT) untuk patroli laut adalah kebijakan yang logis dan modern, terutama di tengah kebutuhan efisiensi BBM serta luasnya wilayah laut Indonesia yang mencapai sekitar 6,4 juta km persegi jika termasuk ZEE.
Dengan area sebesar itu, patroli konvensional yang hanya mengandalkan KRI tentu mahal dari sisi bahan bakar, jam mesin, dan biaya perawatan.
Karena itu, penggunaan drone udara, drone permukaan, dan wahana bawah laut otonom dapat menjadi force multiplier, memperluas jangkauan pengawasan tanpa harus selalu mengerahkan kapal besar.
Kombinasi drone intai sebagai mata, telinga dan kombinasi KRI sebagai tangan dan panahnya.
”Kuncinya pada CONOPS (Concept of Operations) dan datalinknya. Apalagi kapal selam berkomunikasi dengan menyembulkan antena ke permukaan dan ketika dalam laut menggunakan VLF (Very Low Frequency). Inipun harus menggunakan jalur aman atau terenkripsi kelas militer,” ucap Ade.
Ade menambahkan, perhatian harus disiapkan pada kekuatan respons setelah ancaman aktual dideteksi dan divalidasi.
“Apakah armada perang KRI atau anti ranjau atau anti kapal selam atau bahkan memerlukan TNI AU, misalnya kekuatan tempur untuk ancaman kapal induk,” ucapnya.
“Next step atau generation ‘lebih asyik’ lagi jika dikembangkan drone selam dengan AI yang autonomous dan memiliki kemampuan serang (baik kamikaze maupun menembakkan torpedo atau rudal bawah air), tidak lupa menggunakan HITL (Human In-The Loop) yang membutuhkan manusia untuk keputusan,” katanya menambahkan.(Sumber)












