Siapalah saya? kata seorang pencinta Anies Baswedan. Tidak kaya. Tidak pula punya status sosial mentereng. Orang biasa. Rumahnya di Jalan Raya Cihampelas, Cililin, Bandung Barat. “Aksesnya mudah bila Pak Anies mampir sebentar,” kataku membisiki Pak Anies meyakinkan.
Rumah. Depannya ruko. Belakangnya tempat tinggal. Persis dipinggir waduk Saguling. Tabung gas elpiji dan galon air berjejer sebelum masuk ke rumah. Jauh dari kemewahan dan kemegahan. Atasnya kos-kosan.
Tapi itulah Anies. Tak pilih-pilih. Semua orang ia kunjungi. Miskin kaya diperlakukan sama. Pejabat dan Mang Putu ia ajak ngobrol dengan ramah dan penuh kehangatan. Tak membeda-bedakan.
Selepas dari peresmian jembatan Cilojami yang menghubungkan Kampung Cilonok Bandung Barat dengan Kampung Jamilega Cianjur. Anies mampir di Mang Putu. Bukan Mas Putu yang polisi itu loh!
Anies jajan di pinggir jalan. Jajan putu. Depan sebuah gerai minimarket. Titik kumpul kami. Kue putu adalah jenis kudapan tradisional Indonesia berupa kue dengan isian gula jawa, dibalut dengan parutan kelapa, dan tepung beras butiran kasar.
Hingga selesai jajan putu belum ada konfirmasi. “Kita lihat nanti ya,” kata Anies setelah dibisiki bisa tidaknya menengok pencintanya yang sempat koma selama 9 hari.
Anies tidak mau mengecewakan. “Lebih baik mendadak datang daripada mendadak batal,” kata-kata itu kembali Anies sampaikan ke tuan rumah.
Anies selalu ingin memberikan yang terbaik. Secapek dan selelah apapun setelah seharian “bercengkerama” dengan dua warga kampung Cilojami.
Anies berusaha menyempatkan menemui pencintanya yang orang biasa-biasa itu. Anies datang penuh senyum kehangatan. Ramah tentunya. Seolah sudah kenal puluhan tahun. Padahal baru pertama kali bertemu.
Hajjah Euis Rohmah. Usia 75 tahun. Ketika Pak Anies tanya berapa umurnya? 60 tahun. Penulis sempat terkejut. Mungkin sudah mulai pikun. Ketika dikonfirmasi ke anaknya, “75 Pak Ustadz”.
Ibundanya Syifa Indriani, Ketua Umum ABRI SATU. Akronim dari Anies Baswedan RI-1. Masih fasih bercerita saat koma selama 9 hari di sebuah rumah sakit di Kota Bandung ke Pak Anies.
Kisah komanya Hajjah Euis penuh keajaiban. Koma alias tidak sadarkan diri selama 9 hari. Selama koma, Hajjah Euis menuturkan pengalaman spiritual melihat kehidupan lain.
Dokter angkat tangan setelah keluarga menolak pemasangan alat bantu pernapasan di tenggorokan atau trakeostomi. Menyerah. Keluarga pasrah. Hanya kekuasaan Allah, doa dan sabar dalam menghadapi ujian.
Trakeostomi adalah prosedur bedah untuk membuat lubang (stoma) di leher bagian depan menuju trakea (batang tenggorokan).
“…Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” [QS. al-A’raf: 34]
Ajaibnya. Pertolongan Allah subhanahu wata’ala datang. Hajjah Euis sadar. Sembuh seperti sediakala. Bisa ngobrol santai bersama Anies. Bercerita seusai koma selama 9 hari.
“Serasa mimpi katanya,” Pak Anies ke rumah dan bisa ngobrol. Berbagi cerita dengan tokoh nasional yang ia banggakan dan cintai.
“Terima kasih Pak Anies sudah mampir ke rumah kami yang sangat sederhana. Senang sekali dikunjungi Bapak. Lanjutkan perjuangan sampai menang” doa Hajjah Euis kepada Tokoh Perubahan Anies Baswedan yang baik hati.
Bandung, 4 Dzulqa’dah 1447/22 April 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












