Riak di lingkar kekuasaan kembali menguat. Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Mohammad Said Didu, melontarkan kritik keras yang menyentuh langsung dapur komunikasi Presiden Prabowo Subianto.
Lewat akun X pribadinya pada Mei 2026, Said Didu menyoroti pidato Presiden saat groundbreaking proyek hilirisasi di Cilacap, 29 April lalu. Ia menilai ada pergeseran diksi yang tak biasa—yakni penggunaan kata “menyerang”—yang dinilai berseberangan dengan citra persatuan yang selama ini dibangun Prabowo.
“Pidato Presiden menggunakan diksi ‘menyerang’. Apakah ini hasil nasehat Hasan Nasbi yang sejak dulu dikenal dengan gaya komunikasi menyerang, termasuk ke Prabowo?” tulisnya tajam.
Sorotan itu langsung mengarah ke Hasan Nasbi, yang baru saja dilantik sebagai Penasehat Khusus Presiden Bidang Komunikasi pada 27 April 2026—hanya dua hari sebelum pidato tersebut.
Di sinilah aroma “perang gaya komunikasi” mulai terasa. Said Didu seolah memberi sinyal bahwa ada potensi infiltrasi gaya lama—yang konfrontatif dan ofensif—ke dalam pola komunikasi Presiden yang selama ini dikenal lebih rekonsiliatif pasca kontestasi politik.
“Sekadar saran: karena motto yang dibangun Presiden Prabowo adalah persatuan, sebaiknya tidak menggunakan gaya komunikasi menyerang seperti Hasan Nasbi saat menjadi ‘jubir’ Jokowi,” lanjutnya.
Pernyataan ini bukan sekadar kritik personal, melainkan menyentuh isu strategis: arah komunikasi politik Istana ke depan. Apakah Presiden akan tetap konsisten dengan narasi persatuan, atau justru mulai mengadopsi gaya komunikasi agresif yang berpotensi memicu polarisasi baru?
Sejumlah pengamat menilai, diksi dalam pidato Presiden bukan hal sepele. Pilihan kata mencerminkan arah politik, bahkan bisa menjadi sinyal kebijakan. Jika benar terjadi pergeseran, maka ini bukan hanya soal retorika—melainkan perubahan strategi kekuasaan.
Hingga berita ini diturunkan, Istana memilih diam. Tidak ada klarifikasi, tidak ada bantahan—yang ada justru ruang tafsir yang makin liar di publik. Dalam politik, diam sering dibaca bukan sebagai netralitas, tapi sinyal.
Satu hal menjadi terang: cuitan Mohammad Said Didu bukan sekadar kritik personal, melainkan peringatan terbuka agar Presiden Prabowo Subianto tidak tergelincir ke pola komunikasi konfrontatif yang berpotensi menggerus narasi persatuan yang ia bangun sendiri.












