Persiapan intensif yang dilakukan Korps Marinir TNI AL menjelang keikutsertaan dalam latihan militer multinasional terbesar dunia, Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 di Hawaii, Amerika Serikat, tidak sekadar bermakna sebagai agenda peningkatan kemampuan tempur biasa. Di balik latihan fast rope, close quarter battle (CQB), hingga operasi serbuan udara yang sedang dimatangkan para prajurit Marinir, tersimpan pesan strategis yang lebih besar terkait posisi Indonesia dalam dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai keterlibatan Indonesia dalam RIMPAC 2026 menunjukkan bahwa Jakarta semakin menyadari pentingnya membangun kapasitas militer yang mampu beroperasi dalam lingkungan keamanan regional yang semakin kompleks.
Menurut Amir Hamzah, latihan fast rope yang saat ini dijalani pasukan Marinir bukan hanya soal teknik turun dari helikopter, tetapi merupakan bagian dari penguasaan operasi modern yang menjadi standar pasukan elite dunia.
“Fast rope adalah kemampuan dasar dalam operasi penyusupan cepat, operasi anti-teror, pembebasan sandera, hingga pengamanan objek strategis. Ketika Marinir Indonesia berlatih materi ini untuk RIMPAC, artinya mereka sedang menyesuaikan diri dengan standar operasi militer internasional,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).
Amir menjelaskan bahwa kawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi pusat persaingan kekuatan global antara Amerika Serikat dan China.
Laut China Selatan, Selat Taiwan, Laut Filipina, hingga jalur perdagangan internasional yang melintasi Asia Tenggara menjadi titik-titik strategis yang diawasi ketat oleh berbagai negara besar.
Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat penting karena berada di persimpangan jalur laut dunia.
“Indonesia tidak bisa lagi melihat ancaman hanya dalam bentuk perang konvensional. Ancaman saat ini bersifat multidimensi, mulai dari konflik maritim, perang siber, sabotase infrastruktur strategis, hingga operasi militer terbatas yang membutuhkan respons cepat,” ujarnya.
Karena itu, kemampuan seperti infiltrasi udara, operasi lintas matra, dan interoperabilitas dengan negara-negara sahabat menjadi kebutuhan strategis yang tidak bisa diabaikan.
Menurut Amir Hamzah, banyak pihak melihat RIMPAC hanya sebagai latihan perang bersama. Padahal dari perspektif intelijen strategis, forum tersebut merupakan arena diplomasi pertahanan tingkat tinggi.
Dalam latihan tersebut, personel militer dari sekitar 30 negara akan berinteraksi secara langsung, bertukar pengalaman, memahami doktrin masing-masing, serta membangun jaringan komunikasi yang dapat menjadi aset penting dalam situasi krisis di masa depan.
“Di dunia intelijen modern, hubungan personal antarpersonel militer sangat penting. Saat terjadi krisis keamanan internasional, jalur komunikasi informal yang dibangun melalui latihan seperti RIMPAC sering kali menjadi faktor yang mempercepat koordinasi,” jelasnya.
Amir menilai keikutsertaan Indonesia menunjukkan bahwa negara ini tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif, yakni menjalin kerja sama dengan berbagai negara tanpa harus masuk ke dalam blok kekuatan tertentu.
Latihan yang berlangsung selama dua pekan di Cilandak menjadi tahapan penting untuk memastikan seluruh personel memiliki standar fisik dan mental yang dibutuhkan dalam latihan internasional.
Sebanyak 35 prajurit Marinir yang akan berangkat ke Hawaii nantinya akan menghadapi berbagai skenario operasi mulai dari perang hutan, tembak jitu, operasi mortir, serangan udara menggunakan helikopter, hingga Full Mission Profile (FMP).
Menurut Amir Hamzah, partisipasi dalam skenario semacam itu memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia.
“Prajurit kita akan memperoleh pengalaman yang sulit didapatkan jika hanya berlatih di dalam negeri. Mereka akan melihat bagaimana negara-negara maju menerapkan teknologi, manajemen operasi, pengendalian pasukan, hingga integrasi sistem persenjataan modern,” katanya.
Pengalaman tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan doktrin tempur TNI AL dan Korps Marinir di masa depan.
Lebih jauh, Amir menilai keterlibatan Indonesia dalam latihan multinasional juga memiliki efek deterrence atau daya tangkal.
Menurutnya, negara-negara yang memiliki kemampuan bekerja sama dengan berbagai kekuatan militer dunia cenderung lebih diperhitungkan dalam perhitungan strategis kawasan.
“Deterrence tidak selalu berarti memiliki senjata paling canggih. Deterrence juga lahir dari kemampuan profesional, kesiapan tempur, dan jaringan kerja sama internasional yang luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa latihan seperti RIMPAC membantu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia militer yang mampu beroperasi dalam lingkungan multinasional dan menghadapi berbagai bentuk ancaman kontemporer.
Amir Hamzah menegaskan bahwa tujuan utama Indonesia tetap menjaga kedaulatan nasional dan stabilitas kawasan.
Dalam kondisi geopolitik yang terus berubah, peningkatan kualitas prajurit menjadi investasi jangka panjang yang sangat penting.
“Kita tidak sedang mempersiapkan perang, tetapi mempersiapkan kemampuan untuk menjaga perdamaian. Negara yang kuat bukan negara yang mencari konflik, melainkan negara yang memiliki kemampuan mencegah konflik melalui kesiapan dan profesionalisme militernya,” tegas Amir.
Karena itu, latihan fast rope yang saat ini dijalani para prajurit Marinir bukan sekadar rutinitas teknis menjelang keberangkatan ke Hawaii. Dari sudut pandang geopolitik dan intelijen, latihan tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia memperkuat posisi strategisnya di kawasan Indo-Pasifik yang semakin menjadi pusat perhatian dunia.
Dengan bergabungnya puluhan prajurit Korps Marinir dalam RIMPAC 2026, Indonesia tidak hanya mengirimkan pasukan untuk berlatih, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini siap beradaptasi dengan dinamika keamanan global sekaligus menjaga kepentingan nasionalnya di tengah persaingan kekuatan besar abad ke-21.












