Anies Baswedan memberikan pesan mendalam kepada komunitas diaspora Indonesia saat menggelar dialog interaktif di Amerika Serikat belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, Anies menekankan pentingnya peran setiap warga negara di luar negeri sebagai representasi atau “wajah” Indonesia selama 24 jam penuh.
Ia mengajak seluruh diaspora untuk selalu menjaga nama baik bangsa dan menghindari mentalitas inferior yang justru merugikan citra tanah air.
Dalam dialognya, Anies membagikan cerita masa lalunya saat mendapatkan penugasan riset di sebuah kampus di Maryland, Amerika Serikat. Kala itu, ia bertugas melakukan survei melalui telepon guna mengetahui pandangan publik terhadap negara-negara tertentu.
Dari pengalaman tersebut, Anies mengungkapkan adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) unik yang membuka matanya tentang psikologi seorang imigran.
“Ketika menelepon, pertanyaan nomor satu adalah: Apakah dia berasal atau punya keluarga dari negara itu? Apakah dia imigran dari negara itu? Kalau iya, pertanyaan tidak usah diteruskan, cari responden lain,” kenang Anies dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Senin, 13 Juli 2026.
Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 ini menjelaskan bahwa dalam studi sosial, terdapat kecenderungan psikologis di mana seorang imigran atau keturunan imigran kerap memberikan penilaian buruk terhadap negara asalnya. “Kecenderungannya, dia mengatakan yang buruk tentang negeri asalnya untuk menjustifikasi kenapa dia tidak berada di negeri itu lagi,” lanjutnya.
Berkaca dari fenomena tersebut, Anies Baswedan mengimbau diaspora Indonesia di Amerika Serikat dan negara lainnya untuk tidak terjebak dalam pola pikir serupa. Menurutnya, keputusan untuk tinggal atau bekerja di luar negeri harus dipandang dari sudut pandang yang positif, yaitu sebagai langkah jemput bola terhadap peluang baru.
“Kita pergi dari Indonesia, berada di tempat ini karena kita melihat kesempatan di sini. Dan jelaskan itu sebagai kesempatan,” tegas Anies.
Ia menyayangkan jika ada oknum yang harus menjelek-jelekkan kondisi di dalam negeri hanya demi memvalidasi alasan mereka pindah atau bekerja di luar negeri.
Menurutnya, narasi yang dibangun di ruang publik global seharusnya fokus pada kapasitas diri dan kontribusi yang bisa diberikan bagi nama baik Indonesia.
“Tidak perlu menambah dengan kalimat, ‘Indonesia itu buruk, karena itu saya meninggalkan Indonesia.’ Cukup sampai kepada, ‘Di sini ada kesempatan saya berkarya, di sini ada kesempatan membawa nama Indonesia’,” pungkasnya. (Sumber)












