Dokter Gia Pratama: Selelah-lelahnya Nakes, Lebih Lelah Jadi Pasien! Sakit Itu Tidak Enak

Avatar photo

Kasus komentar bernada sinis sejumlah tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS, almarhum Yurizal Tri Chaerawan, terus memicu refleksi di kalangan profesi medis. Salah satunya datang dari dokter umum sekaligus kreator edukasi kesehatan, dr. Gia Pratama Putra, yang mengajak rekan-rekan sejawat untuk kembali mengingat makna profesionalisme dan empati dalam melayani pasien.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, dr Gia mengingatkan bahwa jas putih yang dikenakan dokter maupun seragam tenaga kesehatan bukan sekadar identitas profesi, melainkan pengingat akan tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan.

“Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi,” tulisnya.

Menurutnya, setiap tenaga kesehatan memang menghadapi tekanan pekerjaan yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan empati kepada pasien.

Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.

Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan Show more

Dalam unggahannya, dr Gia menegaskan seragam profesi harus menjadi pengingat agar dokter dan tenaga kesehatan mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi berbagai situasi di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional,” tulisnya.

Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari warganet. Banyak yang menilai pesan itu menjadi pengingat penting bagi tenaga kesehatan di tengah sorotan publik terhadap etika komunikasi dokter di media sosial.

“Masih Lebih Melelahkan Menjadi Pasien”
Pada bagian akhir unggahannya, dr Gia menyampaikan kalimat yang banyak dibagikan ulang oleh pengguna media sosial.

“Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu tidak enak,” tulisnya.

Unggahan itu dinilai mewakili harapan masyarakat agar pelayanan kesehatan tidak hanya mengedepankan kompetensi medis, tetapi juga empati dan penghormatan terhadap martabat pasien.

Polemik Bermula dari Keluhan Pasien BPJS
Refleksi tersebut muncul setelah viral komentar sejumlah dokter dan tenaga kesehatan terhadap unggahan Yurizal Tri Chaerawan di Threads.

Saat itu, Yurizal mengeluhkan harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Alih-alih memperoleh dukungan, unggahannya justru dibalas dengan komentar bernada sinis dari sejumlah akun yang dikaitkan dengan tenaga kesehatan.

Kasus tersebut memicu kecaman publik, terlebih setelah Yurizal meninggal dunia beberapa hari kemudian. Sejumlah dokter yang menjadi sorotan akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui komentar mereka tidak mencerminkan empati maupun etika profesi.

Di tengah polemik tersebut, berbagai kalangan, termasuk Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi serta profesionalisme tenaga kesehatan, baik saat memberikan pelayanan langsung maupun ketika berinteraksi di ruang digital.(Sumber)