Masa Depan Golkar, Antara Politik Kekuasaan dan Dimensi Ideologi

Masa Depan Golkar, Antara Politik Kekuasaan dan Dimensi Ideologi Radar Aktual

Kajian politik Golkar tentu sangat menarik, karena golkar tak memiliki pengaruh politik suara tunggal dan tetap menjadi satu-satunya partai yang fleksibel dalam setiap momentum politik di Indonesia. Disinilah masa depan golkar sering di uji dengan masa lalu golkar, masa kini golkar dan masa akan datang golkar, masa lalu golkar selalu di indentikan dengan partai yang berkuasa di era orde baru, masa kini golkar menjadi partai yang reformis dan selalu mengedepankan politik kekuasaan dan masa akan datang golkar di uji dengan bayangan kekuasaan semata atau akan menjadi partai yang berada pada garis ideologi keindonesiaan.

Secara politik perjalanan partai golkar selalu menjadi partai yang tidak pernah terikat dengan klan aliran politik tertentu, tidak juga dengan klan golongan, klan ras, klan figure, klan kekuasaan, klan kedaerahan maupun klan-klan yang menyempitkan gerakan politik kerakyatan, kekaryaan dan kebangsaan.

Tetapi partai golkar selalu mengambil posisi sebagai partai yang konsisten membangun karya kekaryaan dalam aspek pembangunan Indonesia, dalam politik golkar, kalah dan menang pada setiap pemilu terlaksana, partai golkar tetap konsisten pada ideology kebangsaan berkarya untuk Indonesia Raya.

Golkar era orde baru berkuasa selama 32 tahun dan pemilu tahun 1999 golkar kalah telak dengan partai PDIP di bentuk oleh Ibu Megawati Soekarno Putri, kemudian golkar bangkit menang di pemilu 2004 di masa kepemimpinan politisi senior Akbar Tandjung, tahun 2009 partai Golkar kembali kalah dengan partai demokrat yang dibawah komandan SBY selaku presiden RI pada saat itu, pemilu 2014 juga partai golkar masih kalah dengan partai PDIP serta pemilu 2019 partai golkar tetap bertahan pada posisi kedua sebagai partai yang belum menang.

Ini menunjukkan bahwa partai golkar dalam peta politik Indonesia tetap menjadi partai yang stabil dalam mengelolahnya, walaupun dinamika di internal partai sangat kuat dan hingga kini masih memiliki basis politik yang masih bertahan. Namun kemudian bukan berarti bahwa partai golkar tidak memiliki ancaman masa depan, tetapi golkar tetap mendapat ancaman menjadi partai pemenang masa depan, apakah ancaman itu secara ideology dan pengelolaan partai atau ancaman tersebut karena kue kekuasaan yang masih belum terjamak secara baik.

Pemilu 2019 adalah evaluasi totalitas masa depan golkar, dimana partai golkar juga ikut tergerus suaranya dari partai baru bentukan keluarga cendana yakni partai berkarya, alhasil partai tersebut juga tidak mampu menaikan parliamentary threshold (PT) empat persen di pemilu kali ini, namun tetap saja partai golkar terpengaruh dengan basis politik keluarga cendana tersebut, karena partai golkar, apapun ceritanya tetap menjadi sejarah keluarga cendana, maka kurang lebih suara golkar juga terbagi sebagian suara di partai berkarya yang di ketuai langsung oleh Tomy Soeharto. Artinya bila pemilu 2019 partai golkar mengalami penurunan suara, berarti salah satunya suara golkar bisa saja terbagi dengan partai berkarya dan hal ini perlu di evaluasi secara maksimal.

Sehingga jangan heran ketika belakangan ini juga muncul suara tegas dan konstruktif dari angkatan muda partai golkar (AMPG) atau sayap partai golkar yang diwakili langsung oleh wakil ketua umum PP AMPG Abdul Aziz bahwa terkait dengan penurunan suara golkar di ukur dengan berkurangnya kursi DPR RI dari 91 kursi menjadi 85 kursi, ini artinya Airlangga Hartato selaku ketua umum partai golkar gagal menjalankan tugas sebagai ketua umum memenangkan partai golkar pemilu 2019, hal ini Aziz menyampaikan soal Munas (Musyawarah Nasional) partai golkar mau tidak mau memang harus terjadi di tahun ini untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan partai golkar yang terjun bebas dibawa kepemimpinan Airlangga Hartato (www.golkarpedia.com/29 mei 2019).

Desakan tersebut menunjukkan bahwa partai golkar perlu menjadi evaluasi terkait masa depanya, apakah golkar masih tetap menjadi seperti ini atau golkar perlu berbenah dan menjadi bagian terpenting atas masa depan bangsa ini. Artinya golkar tidak hanya memikirkan sesaat alias ketika mendapatkan kekuasaan, maka golkar tidak lagi tegas berada pada posisi otokritik terhadap pemerintahan hari ini, tetapi golkar harus menjadi garda terdepan suara rakyat Indonesia sebagaimana tercantum dalam ideology kebangsaan menjadi Negara Indonesia yang berdaulat, mecerdaskan dan mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia seutuhnya.

Golkar wajib kembali ke ideologi kebangsaan Pancasila dan UUD 1945, karena dasar itulah melahirkan karya kekaryaan untuk bangsa, disitulah secara otomatis rakyat tidak tidur untuk melihat karya nyata tersebut, maka masa depan partai golkar pun terus mekar dan menjadi dambaan rakyat Indonesia pada setiap momentum pemilu. Ideologi partai golkar wajib bertransformasi menjadi nyata dalam kehidupan kemasyarakatan, karena Ideologi partai golkar adalah ideology keindonesiaan yang lahir dan membesarkan atas dasar Negara kesatuan republic Indonesia (NKRI).

Sebagaimana juga tercermin dalam pandangan Terry Eagleton menjelaskan soal Ideology bahwa ideology tersebut di ekspresikan dalam 3 hal ; 1). Ekspresi dari pemikiran yang dogmatis., artinya dokmatis atas doktrin ideology bangsa yang tertera dalam dasar Negara yang lahir dari filosofis kehidupan bangsa indonesia, 2). Doktrin tentang pandangan dunia, artinya pandangan yang sesuai dengan kondisi kehidupan rakyat Indonesia, era masa kini dan apa persoalanya dan 3). Ideologi sebagai ilmu pengetahuan, artinya ideologi partai harus rasional, objektif dan sesuai dengan pengtahuan ilmiah sesuai dengan kajian-kajian akademis, sehingga aspek nilai, realitas dan ilmiah harus di senergikan dalam mengembangkan partai politik masa depan secara baik dan tepat.

Antara kekuasaan dan ideologi partai harus memiliki garis yang tidak bertentangan, kalaupun politik kekuasaan itu adalah siyasah dalam berpolitik untuk bereksistensi dan meningkatkan gairah partai golkar, tetapi jangan lupa bahwa nilai ideology harus menjadi landasan utama dalam perjuangan masa depan partai golkar. Golkar tetap merawat dan memperjuangkan ideologinya yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945, dimana partai golkar konsisten berjuang sebagai suara rakyat serta menyelenggarakan karya kekaryaan untuk kesejahteran rakyat Indonesia secara adil dan beradab. Jangan sampai masa depan partai golkar seperti terjadi di partai hati nurani rakyat (HANURA), dimana partai ini tak lolos di PT padahal pemilu 2019, padahal pemilu sebelumnya menjadi bagian dari partai yang memperjuangkan nurani partai di parlemen (DPR RI).

Tentu partai golkar walaupun menjadi laboratorium partai politik di Indonesia, namun kali ini sedikit menjadi pelajaran berharga di partai hanura yang tidak lolos di PT, terlepas dari konflik internal partai, tetapi pelajaran yang diambil adalah ideology partai yang kurang maksimal di perjuangkan, sehingga partai tersebut kelihatanya hanya merebut kuasa politik. Olehnya itu, pengalaman dan kedewasan golkar sangat matang dalam setiap momen politik ini, juga ingat momentum politikpun selalu berganti orang, bila orang tetap berganti, maka cara dan pengelolahanya sedikit berubah, disinilah butuh SDM, kritik, masukan dan merawat ideology partai yang lahir dari ideologi Negara harus di maksimalkan dan di perjuangkan kapanpun dan dimanapun, apapun lefel politiknya.

Partai golkar akan menjadi partai masa depan bila ideology partai wajib di perjuangkan dan di rawat secara maksimal dan politik kekuasaan juga terus di langsungkan untuk kepentingan bersama partai golkar dan rakyat Indonesia, golkar akan menjadi besar dan selalu menjadi harapan bangsa Indonesia, golkar suara rakyat, golkar bangkit, golkar maju dan golkar masa depan Indonesia.

Pondok Gede, 2 Juni 2019
Muliansyah Abdurrahman (Dosen FISIP UMS dan Peneliti Institut Politik Indonesia (IPI))

No Response

Leave a reply "Masa Depan Golkar, Antara Politik Kekuasaan dan Dimensi Ideologi"