Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP Mufti Aimah Nurul Anam mendukung Kementerian Agama (Kemenag), mencoret Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan haji pada tahun 2025. Sebab, ketidakprofesionalan Garuda tak sebanding dengan biaya perjalanan yang mahal para jemaah.
“Sangat setuju (untuk dicoret). Jemaah haji sudah membayar mahal, mereka seharusnya dilayani dengan baik. Ketepatan penerbangan juga sangat memengaruhi kondisi fisik serta psikologis jemaah,” tegas Mufti kepada Inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Selasa (9/7/2024).
Ia juga menyoroti banyaknya kasus keterlambatan yang dilakukan Garuda selama operasional haji. Tidak hanya mengecewakan, pelayanan murahan seperti ini juga sangat memalukan sehingga tidak dapat ditoleransi.
“Keterlambatannya puluhan jam, ini memalukan. Karena Garuda yang merupakan flag carrier seharusnya menjadi kebanggaan negara dengan pelayanan terbaik. Jemaah haji Indonesia berhak mendapat pelayanan yang lebih baik, dan karena itu Kemenag harus pertimbangkan untuk tidak lagi pakai Garuda lagi,” tutur Mufti.
“Bahkan Sabtu lalu (6/7/2024) ada laporan jemaah Embarkasi Balikpapan (BPN-9) terlambat sampai lebih dari 24 jam. Artinya perbaikan yang dilakukan Garuda tidak optimal,” ujarnya lagi.
Oleh karena itu, Komisi VI akan terus mengawal persoalan ini, termasuk akan mengusulkan agar Garuda secara komprehensif memberikan penjelasan soal kinerja buruk pelayanan haji. “Saya kira juga Pansus Penyelenggaraan Ibadah Haji DPR, pasti juga akan terus melakukan pengawalan,” tutur dia.
Sebelumnya, Kemenag mengancam akan mencoret Garuda Indonesia dari daftar maskapai penerbangan haji tahun depan. Ancaman ini muncul setelah serangkaian keterlambatan penerbangan yang menyebabkan jemaah haji terlantar hingga 28 jam.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Hilman Latief, menyatakan bahwa pihaknya sangat kecewa dengan layanan Garuda Indonesia selama musim haji tahun ini.
“Dengan kejadian ini, Kementerian Agama akan mempertimbangkan kembali keterlibatan Garuda Indonesia pada penerbangan jemaah haji di tahun mendatang,” tegas Hilman di Jakarta, Senin (8/7/2024).
Direktur Layanan Haji Dalam Negeri, Saiful Mujab, juga mengkritik keras kinerja Garuda Indonesia. Pada pekan pertama fase pemulangan jemaah haji, lebih dari 50 persen penerbangan mengalami keterlambatan. Dari 52 kloter, sebanyak 38 kloter terbang tidak sesuai jadwal.
“Pada pekan kedua pemulangan, total sudah ada 155 kloter jemaah haji Indonesia yang sudah diterbangkan Garuda Indonesia ke tanah air. Dari 155 kloter, ada 75 kloter yang mengalami keterlambatan atau 48,39 persen,” jelas Saiful Mujab.
“Kalau pekan pertama ada KNO 03 yang delay 12 jam 30 menit, pekan kedua ini ada BPN 09 yang delay hingga 28 jam 10 menit. Ini sangat parah,” ujarnya menambahkan.
(Sumber)