Kisah 7 Milenial Indonesia Yang Sukses Bangun Startup

Sejak munculnya Revolusi Industri 4.0 yang ditandai oleh perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi, banyak anak muda, terutama generasi milenial dan generasi Z berbondong-bondong membangun startup.

Achmad Zaky (Founder dan CEO Bukalapak)

Sebelum mendirikan Bukalapak, Zaky sudah mengenal dunia teknologi sejak sekolah dasar. Ketika mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Solo, kelahiran 24 Agustus 1986 ini mendapat kesempatan untuk mewakili sekolahnya di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang komputer dan menang hingga tingkat nasional.

Pada 2004, suami dari Diajeng Lestari (founder Hijup.com) yang melanjutkan studinya di jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung sempat mendapat IPK 4.00 di tahun pertama, dan lulus dengan predikat cumlaude. Bapak dua anak ini juga meraih beasiswa studi ke Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat pada 2008 dan mewakili ITB dalam ajang Harvard National Model United Nations 2009.

Bukalapak, perusahaan e-commerce Indonesia berbasis marketplace C2C yang berfokus pada pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) ini sudah membuat harta kekayaan Zaky mencapai US$ 100 juta atau setara Rp 1,5 triliun. Ia bahkan menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya pada Juli 2016 yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Amanda Susanti (Co-Founder dan CEO Sayurbox)

Amanda Susanti yang merupakan lulusan program Manajemen di University of Manchester, Inggris memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan meluncurkan aplikasi Sayurbox, platform sumber dan distribusi untuk sayur dan buah segar langsung dari petani.

Alasan perempuan berusia 29 tahun ini membuat Sayurbox agar petani bisa menikmati harga lebih adil, juga pelanggan bisa menerima produk dengan kualitas terbaik. Sejauh ini Sayurbox sudah bermitra dengan 300 perkebunan, melayani lebih dari 50.000 pelanggan dan menghasilkan 1.000 pengiriman sehari.

Lewat Sayurbox, Amanda memenangkan kompetisi startup Seedstars Jakarta, dan telah menerima lebih US$2 juta dalam bentuk pendanaan. Ia juga masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2019, kategori Industri, Manufaktur & Energi.

Eugine Patricia Agus

Eugenie yang saat itu berusia 19 tahun dan kakaknya Adrian Christoper Agus berusia 21 tahun, mendirikan Puyo Silky Dessert pada Juli 2013. Resep Puyo Silky Dessert yang didapatkan dari ayahanda mereka sukses membuka outlet resmi pertama pada September 2013.

Dilansir dari Indonesia Tatler, kedua kakak adik ini hanya mengeluarkan modal awal sebesar Rp 5 juta, yang hingga kini belum ditambahkan suntikan dana lagi, namun berhasil memberi omzet hampir ratusan juta dari seluruh outlet dan reseller.

Setelah 5 tahun beroperasi, Puyo memiliki 60 lebih outlet yang menyebar di Jabodetabek, Bandung, dan Karawang, dan lebih dari 270 orang karyawan. Eugenie yang merupakan lulusan jurusan bisnis di Universitas Prasetiya Mulya dan Adrian lulusan program kewirausahaan di Universitas Teknologi Swinburne, Australia ini berhasil menerima omzet hingga Rp 1 miliar per bulan dari penjualan Puyo mereka.

Ferry Unardi (Co-Founder dan CEO Traveloka)

Berhenti kuliah bukan halangan untuk sukses dan Ferry membuktikannya. Pria kelahiran 16 Januari 1988 ini berhasil membangun startup website booking pesawat Traveloka pada usia 23 tahun. Latar belakang dirinya bersama rekan sebagai engineer, membuat sangat pas untuk mengembangkan sistem; mulai dari analisis e-commerce-nya, sistem enterprisenya, coding dan sebagainya.

Sayangnya pada awal diluncurkan, tidak ada satupun maskapai penerbangan yang bekerja sama dengan Traveloka. Namun seiring dengan kemajuan trafik website, banyak maskapai mulai bekerja sama, di mana setiap transaksi diberikan share profit sebesar 5%.

Inilah yang membuat Traveloka menyabet status startup unicorn bersama dengan Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak. Dengan perusahaan yang memiliki valuasi diatas 1 milyar dollar, Ferry ditaksir memiliki kekayaan sekitar 145 juta Dollar atau setara dengan Rp 2,09 triliun pada 2018 dan masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia.

Muhammad Alfatih Timur (Co-Founder & CEO Kitabisa.com)

Mantan aktivis mahasiswa UI yang akrab disapa Timmy ini berhasil mendirikan website urun dana (crowdfunding), Kitabisa.com pada 6 Juli 2013. Situs penggerak perubahan sosial ekonomi masyarakat ini berhasil memfasilitasi lebih dari 31.846 penggalangan dana sosial, dengan 2.801.425 orang yang bergabung, dan lebih dari Rp 815 milyar donasi terkumpul. Penggalangan dana sosial biasanya ditargetkan untuk donasi seperti pembangunan rumah ibadah, biaya medis, beasiswa, dan lainnya.

Proyek sosial tersebut biasanya diinisiasi oleh individu, komunitas, yayasan hingga lembaga zakat yang mengumpulkan donasi online mulai dari 20 ribu hingga jutaan rupiah. Pria kelahiran Bukittinggi, 27 Desember 1991 silam juga masuk ke dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2016 kategori social-entrepreneur, dan pernah menjadi salah satu peserta yang mengikuti pelatihan bisnis Project Catalyst di Seattle, Washington November 2014 lalu.

Nadiem Anwar Makarim (Founder dan CEO Gojek)

Siapa yang tidak kenal Nadiem dan Gojek? Gojek meraih Decacorn dan jadi perusahaan pertama yang menyandang status ini. Menurut data CB Insight, Gojek memiliki nilai valuasi di atas US$10 miliar atau setara Rp 140 triliun dan menduduki peringkat nomor 19 di dunia.

Lulusan International Relations di Brown University, yang juga meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School ini berhasil menjadi penyedia jasa transportasi online di Indonesia sejak 2011. Namun tidak hanya sampai situ, pria kelahiran 4 Juli 1984 juga ekspansi ke negara lain, seperti Vietnam dengan Go-Viet dan negara Filipina, Thailand, serta Singapura. Dengan perusahaannya ini, Nadiem ditaksir memiliki kekayaan mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun.

William Tanuwijaya (Co-Founder dan CEO Tokopedia)

Bersama dengan rekannya Leontinus Alpha Edison, William membangun Tokopedia yang berhasil diwujudkan pada 2009. Namun ide Tokopedia ini sudah tercetus sejak 2007, dimana orang-orang khawatir dengan resiko belanja daring.

Setelah berhasil memperoleh kepercayaan investor, Tokopedia berhasil meyakinkan 70 toko online dan kini sudah berkembang menjadi puluhan ribu penjual, dengan lebih dari 2 juta produk terjual per bulan dengan pertumbuhan 30 persen tiap bulannya. Majalah Globe Asia bahkan menyatakan bahwa pria kelahiran 11 November 1981 ini menempati urutan ke-148 manusia paling berharta di Indonesia dengan kekayaan berkisar USD 130 juta atau Rp 1,8 triliun. [cnbcindonesia]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *