News  

JK: Eksportir Indonesia Masih Diuntungkan Meski Rupiah Anjlok dan Terdampak Tarif Trump

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai pelemahan rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat tak selalu membawa dampak negatif bagi perekonomian nasional. Dalam konteks perang dagang dan tarif tinggi dari AS, justru ada peluang tersembunyi bagi pelaku usaha Indonesia, terutama para eksportir.

Menurut JK, nilai tukar yang melemah membuat harga produk Indonesia di pasar global menjadi relatif lebih murah, sementara penerimaan dalam rupiah tetap stabil. Artinya, produsen bisa menurunkan harga jual dalam dolar tanpa harus mengorbankan keuntungan yang diterima dalam rupiah.

JK menilai, pelemahan rupiah terhadap USD memberikan fleksibilitas tambahan bagi eksportir untuk tetap bersaing secara harga di pasar Amerika. Apalagi di saat bersamaan, pemerintahan Donald Trump mengenakan tarif impor sebesar 32 persen kepada barang-barang asal Indonesia. Dibandingkan negara saingan seperti Vietnam yang dikenakan tarif hingga 46 persen, posisi Indonesia sebenarnya relatif lebih menguntungkan.

“Jadi katakanlah pengusaha garmen di Bandung, di mana kalau Dolar AS mencapai Rp 17 ribu, supaya harganya di Amerika yang murah turunkan USD 1, tidak apa-apa. Dia tetap menerima rupiah yang sama,” ungkapnya.

JK menekankan, peluang ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk nasional, asalkan pelaku usaha mampu melakukan efisiensi dalam produksi dan distribusi. Selain itu, situasi ini juga harus dibaca sebagai bentuk tekanan politik Amerika Serikat kepada sejumlah negara, bukan sekadar kebijakan ekonomi.

Ia menyebut, tarif yang dikenakan AS lebih bersifat strategis dan ditujukan kepada negara, bukan spesifik pada komoditas. Oleh karena itu, Indonesia tidak perlu bersikap terlalu reaktif. Selama Amerika tetap membutuhkan barang-barang seperti sepatu, sabun, dan komponen elektronik, maka permintaan terhadap produk Indonesia masih akan terus ada.

Menariknya, JK juga menyatakan tarif tinggi itu justru lebih membebani pengusaha dan konsumen di Amerika sendiri. Mereka yang akan menanggung biaya tambahan akibat kebijakan tersebut, bukan produsen di negara pengirim.

Pemerintah AS, menurut JK, telah menghitung daya beli masyarakatnya tidak akan anjlok karena sebagian beban tarif akan dikompensasi dengan pemotongan pajak domestik.

“Rakyat Amerika nanti dia mau beli barang sedikit mahal (efek tarif Trump). Tapi pajaknya dikurangi. Jadi sebenarnya daya beli Amerika dia desain tidak terlalu turun,” tuturnya.(Sumber)