News  

PWI-LS Perusuh Berkedok Islam

Anggota PWI-LS (IST)

Dalam dinamika kebangsaan dan keummatan, kita menyaksikan munculnya berbagai organisasi kemasyarakatan yang mengklaim membawa misi keagamaan. Namun tidak semuanya mencerminkan nilai-nilai luhur Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Salah satu ormas yang belakangan menuai kontroversi adalah Perjuangan Walisongo Indonesia – Laskar Fie Sabilillah (PWI-LS). Alih-alih menjadi pelanjut dakwah dan teladan akhlak para Wali Songo, sepak terjang PWI-LS dinilai kontradiktif dengan nilai-nilai Islam yang sejuk, toleran, dan penuh hikmah.

PWI-LS belakangan sering muncul dalam aksi-aksi yang justru dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk provokasi dan penyerangan terhadap tokoh-tokoh Islam yang konsisten berdakwah di jalan amar ma’ruf nahi munkar. Narasi dan tindakan yang mereka lakukan kerap menimbulkan keresahan, bahkan berpotensi memecah belah umat Islam itu sendiri.

Berikut lima indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan ormas ini patut dikritisi secara serius:

1. Menyalahgunakan Nama Wali Songo
Menggunakan nama besar Wali Songo seolah memberikan legitimasi religius, namun dalam praktiknya mereka menunjukkan sikap konfrontatif dan cenderung menjauh dari nilai-nilai dakwah damai yang diperjuangkan para Wali.

2. Latar Belakang yang Tidak Kredibel
Banyak pengikutnya memiliki rekam jejak yang meragukan, baik dalam aspek akidah, etika berorganisasi, maupun kontribusi sosial. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang integritas dan niat baik mereka.

3. Doktrin Permusuhan terhadap Ulama dan Habaib
PWI-LS cenderung memposisikan diri secara antagonistik terhadap ulama-ulama yang konsisten berdakwah di jalan kebenaran. Tuduhan-tuduhan sepihak kepada para dzurriyat Rasulullah saw (habaib) dan para ustadz salih menunjukkan adanya bias dan agenda terselubung.

4. Kepemimpinan Bermasalah
Figur-figur sentral PWI-LS sering kali memiliki rekam jejak yang berseberangan dengan perjuangan moral umat Islam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa organisasi ini hanya menjadi alat kepentingan tertentu.

5. Dugaan Dibelakanginya oleh Kekuatan Politik dan Militer
Ada anggapan bahwa keberadaan PWI-LS terus dibiarkan, bahkan didukung secara diam-diam oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan untuk menciptakan polarisasi sosial dan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Karena itu, umat Islam tidak boleh bersikap permisif terhadap ormas-ormas semacam ini. Toleransi bukan berarti membiarkan pihak-pihak yang terang-terangan memecah belah ukhuwah dan merusak citra Islam di mata publik.

Jika negara tidak mampu bersikap tegas, maka jangan salahkan masyarakat bila akhirnya lahir resistensi sosial yang lebih luas. Pemerintah perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap keberadaan ormas-ormas yang berpotensi menjadi sumber konflik sosial. Jangan sampai konflik kecil dibiarkan membesar dan berubah menjadi disintegrasi di tubuh umat, atau bahkan bangsa.

Jangan biarkan simbol-simbol Islam disalahgunakan oleh kelompok-kelompok yang justru merusak dari dalam. Dakwah harus dikembalikan ke jalur rahmatan lil ‘alamin, dengan kasih sayang, hikmah, dan keteladanan.

Oleh: Sholihin MS
Pemerhati Sosial dan Politik