Kemampuan membaca anak SMP Indonesia usia 15 tahun termasuk yang terburuk di dunia. Hasil PISA mencatat: 75% bisa membaca tetapi tidak mengerti isinya. Fakta ini sudah berulang selama dua dekade. Mungkin sudah banyak yang tahu informasi ini, tetapi kurang paham implikasinya.
Usia 15 adalah titik kritis perkembangan kognitif. Setelah itu, kemampuan melambat.
Artinya, 75% anak Indonesia berusia 15 tahun di awal 2000 yang kini sudah dewasa, produktif, dan bekerja, tetapi mayoritas tetap kesulitan memahami bacaan. Apalagi tanpa dukungan lingkungan dan fasilitas.
Tidak mengherankan hasil survei OECD yang meneliti literasi orang dewasa di Jakarta (2015).
• 32% tidak mampu memahami teks paling sederhana.
• 37% hanya bisa mengerjakan tugas sangat dasar.
• Hanya 5% mampu memahami teks panjang.
• Kurang dari 1% bisa membaca kompleks.
Di ibukota saja hampir 70% berada di literasi sangat rendah. Bayangkan Indonesia secara keseluruhan. Bangsa sebesar ini hampir tanpa pembaca mahir.
“Literacy is a bridge from misery to hope,” kata Kofi Annan, bekas Sekjen PBB.
Tanpa literasi, bangsa ini tetap terjebak dalam lingkaran kebodohan, terbelenggu ketidaktahuan, dan akhirnya terbelenggu masa depan yang gagal.
MASALAH TERBESAR RI
Banyak mengklaim bahwa korupsi adalah masalah utama Indonesia. Tapi korupsi adalah simptom. Akar masalah lebih dalam: bodoh, tidak percaya diri, dan moral busuk.
Orang berilmu yang terbiasa membaca memiliki wisdom. Ia percaya diri bisa berhasil tanpa korupsi. Korupsi akan tetap ada, tetapi persentasenya kecil jika ilmu dan karakter kuat.
Indonesia gagal membangun manusia pembaca. Itulah kegagalan terbesar pendidikan kita. Delapan puluh tahun merdeka, tetapi bangsa ini nyaris tanpa pembaca mahir. Korea Selatan punya sekitar 14%.
Dan 60% persen lebih dari mereka memiliki kemampuan membaca di atas rata-rata. Lebih dari 75% penduduk dewasa kita memiliki kemampuan membaca di bawah rata-rata.
Kalau membaca sederhana saja sulit, bagaimana memahami realitas Indonesia yang kompleks? Tidak berlebihan jika 95% orang Indonesia tidak sungguh mengerti persoalan bangsanya. Termasuk para pengambil dan pelaksana kebijakan umum.
Dan bagaimana bisa menguasai sains dan ilmu pengetahuan, apalagi berinovasi. Sementara kita hidup dalam dunia yang sangat ditentukan kemampuan menguasai ilmu, pengetahuan, dan teknologi.
SEMBOYAN SEMATA
Seorang sahabat saya, warga AS yang pernah memimpin universitas di Jakarta, berkata: Indonesia pandai membuat slogan, tetapi miskin upaya untuk mewujudkannya. Slogan sering dianggap sudah menjadi realita.
“Indonesia Emas” hanya opium jika fakta literasi ini diabaikan. Tanpa strategi dan inisiatif sistematis, terarah, transformatif, slogan tinggal slogan.
Gerakan Literasi? Indah di spanduk, rapuh di lapangan. Dari 24 SD di Jakarta yang kami tinjau relatif acak, hanya 2 yang punya perpustakaan layak. Kurang dari 10%. Bahan bacaan praktis sangat minus.
Bagaimana bisa bicara literasi bila bacaan pun tak tersedia?
Itu di Jakarta. Bayangkan di seluruh Indonesia.
Ketika saya berusaha membangun literasi di Indonesia, manusia Indonesia (hampir dari semua jenjang) menganggap saya manusia aneh. Membaca? Itu proyek, bukan budaya!
JALAN KE DEPAN
Membaca adalah induk dari segala penguasaan ilmu dan pengetahuan. Tanpa revolusi membaca, kita akan terus tertinggal.
Indonesia tidak akan bisa maju jika bangsanya tidak bisa, tidak mau, dan tidak mahir membaca.
Tiga puluh tahun lalu saya menjejakkan kaki di Boston, AS. Sebagai penulis kolom di harian besar seperti Kompas dan Suara Pembaruan dua tahun sebelumnya, termasuk yang termuda, saya merasa sudah banyak membaca dan tahu banyak hal.
Namun ketika memasuki perpustakaan umum Boston, saya mengalami epiphany: sebuah kesadaran mendalam yang mengubah cara pandang saya. Saya tersadar, ternyata saya belum tahu apa-apa, dan apa yang saya baca selama ini hanyalah sebutir pasir di pantai maha luas.
Lebih dari itu, saya melihat dengan jernih bahwa peradaban dan kemajuan memang bertumpu pada membaca. Dengan merenung saya mengingat di tanah air. Miris.
30 tahun kemudian, saya yang masih di AS, merenung dan berusaha untuk tanah air. Tetapi semakin miris.
Kawan-kawan yang memiliki ijazah tinggi, bahkan S3 luar negeri, ternyata bukan jaminan. Karena dirinya pun bisa defisit membaca aspek lain, yaitu membaca dengan wisdom dan nurani.
Oleh Elwin Tobing
Profesor ekonomi dan pendukung besar America First dan Indonesia First!












