Solusi Indonesia Hanya Dua, Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi!

Demo adili Jokowi (IST)

Pemerhati sosial dan politik, Sholihin MS, melontarkan pernyataan keras terkait kondisi bangsa yang menurutnya berada dalam ancaman besar akibat manuver politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan lingkarannya. Ia menyebut hanya ada dua solusi agar Indonesia selamat: memakzulkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan mengadili Jokowi.

Menurut Sholihin, Jokowi bersama kelompok yang ia sebut sebagai Genk Solo masih berupaya mengendalikan kekuasaan meski tidak lagi menjabat presiden. Upaya itu, kata dia, dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari “penyanderaan” pejabat, penyalahgunaan kewenangan, jebakan korupsi, hingga konspirasi melawan pemerintahan yang sah.

“Jika kejahatan seperti ini dilakukan rakyat biasa, hukumannya bisa mati atau penjara seumur hidup. Tapi karena dilakukan Jokowi dan gengnya, mereka justru bebas. Padahal tindakan itu sudah termasuk makar, pembunuhan, korupsi, penipuan, dan pengkhianatan bangsa,” tegas Sholihin kepada Radar Aktual, Rabu (10/9/2025).

Ia menuding bahwa Gibran hanya menjadi pion Jokowi dalam skenario besar untuk kembali menguasai kekuasaan. “Grand design Jokowi itu jelas. Melalui jabatan Gibran sebagai Wakil Presiden, ia bisa saja menggusur Prabowo. Setelah itu, kendali pemerintahan kembali ke tangan Jokowi. Kalau DPR dan Prabowo lengah, Indonesia dalam bahaya besar,” ujarnya.

Sholihin juga mengkritik reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pergantian menteri hanya bersifat “gula-gula politik” yang belum tentu membawa perubahan signifikan. Ia menyoroti khususnya penggantian Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan yang disebutnya tidak akan membawa perbaikan jika pola pikir pemerintah tetap menjadikan rakyat sebagai objek pungutan.

“Walaupun reshuffle bisa ditafsirkan sebagai upaya Prabowo mengurangi pengaruh Jokowi, itu tidak cukup. Dua masalah utama bangsa ini harus dituntaskan segera: tangkap dan adili Jokowi serta makzulkan Gibran,” tandasnya.

Sholihin menegaskan, jika dua hal itu tidak dilakukan, maka Indonesia akan terus berada di ambang kehancuran. “Kalau ini tidak diatasi, rakyat hanya menunggu waktu untuk menghadapi tragedi berdarah akibat tirani kekuasaan. Dan penyesalan saat itu sudah tidak ada artinya,” pungkasnya.