Reliji  

Ketika Rasulullah SAW Sujud Panjang Usai Dikunjungi Jibril

Terdapat sebuah kisah menyentuh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau memperpanjang sujudnya hingga durasinya hampir menyamai rukuk. Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah memang terlihat memperlama sujudnya karena alasan tertentu, sebagaimana diceritakan oleh para sahabat. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi hingga beliau melakukan hal tersebut?

Dalam riwayat yang disampaikan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf, diceritakan bahwa beliau melihat Rasulullah SAW berjalan menuju tombaknya. Setelah itu, Nabi masuk ke dalam masjid, menghadap ke arah kiblat, lalu bersujud dengan sangat lama.

Setelah usai, sahabat Nabi yang terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya ini berkata, “Wahai Rasulullah, engkau bersujud satu kali dengan sujud yang lama.” Tanya sang sahabat penuh keheranan, “Saking lamanya, sampai-sampai aku mengira bahwa Allah Ta’ala telah menyabut jiwamu.”

“Tadi,” jawab Nabi yang mulia akhlaknya ini, “Jibril mendatangiku.”

Rupanya, malaikat Jibril mengunjungi beliau untuk menyampaikan Firman Allah Ta’ala terkait hamba dan Rasul-Nya ini.

Allah Ta’ala berfirman sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan dikutip Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam ‘Uddatush Shabirin, “Barang siapa berselawat kepadamu (Muhammad), Aku akan berselawat kepadanya. Barang siapa mengucapkan salam kepadamu, Aku akan mengucapkan salam kepadanya.”

“Karena itulah,” pungkas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan, “aku langsung bersujud kepada Allah Ta’ala sebagai ungkapan syukur.”

Mahasuci Allah Ta’ala dengan segala firman-Nya. Terpujilah Nabi dan Rasul-Nya yang agung—sosok kekasih Allah yang terpilih. Beliaulah insan yang jika namanya dipuji, maka Allah sendiri yang akan membalas pujian itu bagi siapa pun yang memujinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa siapa yang bershalawat kepada Nabi sekali saja, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh shalawat. Bukankah ini sebuah ganjaran yang luar biasa dan layak dikejar?

Memuji dan bershalawat kepada Nabi sejatinya adalah kebutuhan jiwa bagi mereka yang mencintainya. Meskipun kita yang memerlukan, Allah justru langsung membalas setiap shalawat yang kita panjatkan.

Karena itu, membiasakan diri bershalawat menjadi amalan mulia yang tinggi nilainya di sisi Allah. Bukan sekadar lafaz rutin tanpa makna, tetapi doa yang dilafalkan dengan penuh penghayatan, disertai usaha sungguh-sungguh untuk meneladani sunnah-sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Wallahu A’lam