Pemerhati sosial dan kebangsaan, Yusuf Blegur, menyampaikan pandangan reflektifnya terkait peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Hadiah terbaik untuk ulang tahun TNI pada tahun ini adalah menyadari, memaknai sekaligus melaksanakan peran dan fungsi TNI yang sebenarnya,” ujar Yusuf Blegur dalam keterangannya di Bekasi, Minggu (5/10/2025).
Ia menegaskan bahwa TNI harus tetap teguh berdiri di atas kepentingan bangsa dan negara, bukan terkooptasi oleh kekuasaan, kepentingan politik, atau tekanan oligarki ekonomi yang belakangan ini kian menguat dalam dinamika nasional.
“TNI tidak boleh menjadi alat penguasa, tidak terseret kekuatan PKI, dan tidak menjadi pesuruh oligarki,” tegasnya.
Menurut Yusuf, tantangan terbesar TNI di era modern bukan lagi hanya ancaman militer dari luar, melainkan infiltrasi ideologis dan politik dari dalam negeri. Ia mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat bagaimana TNI menjadi benteng terakhir dalam menjaga keutuhan ideologi negara dan kedaulatan rakyat. Namun, dalam perkembangan terakhir, muncul kekhawatiran bahwa sebagian elemen militer mulai terjebak dalam pusaran kekuasaan yang pragmatis.
“Ketika TNI kehilangan arah dan mulai tunduk pada kepentingan politik sesaat, maka kekuatan moralnya sebagai pelindung rakyat akan melemah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa TNI sejati bukanlah yang hanya kuat secara persenjataan, melainkan yang kuat secara moral, nurani, dan integritas.
Lebih jauh, Yusuf menyoroti fenomena keterlibatan sejumlah purnawirawan dan tokoh militer dalam bisnis dan politik praktis. Menurutnya, hal itu sering kali justru mengaburkan batas antara kepentingan negara dengan kepentingan kelompok tertentu.
“Militer harus kembali pada nilai dasar Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Mereka adalah prajurit rakyat, bukan pelindung pengusaha atau oligarki politik. TNI yang punya jati diri akan tahu kapan harus bersuara, kapan harus diam, dan untuk siapa mereka berjuang,” kata Yusuf.
Ia juga menyinggung bahaya terselubung dari pengaruh ideologi kiri maupun liberal yang dapat menumpulkan nasionalisme di tubuh TNI. “Pengaruh ideologi asing bisa masuk dalam bentuk pemikiran, sistem ekonomi, bahkan kebijakan pertahanan yang tak sesuai dengan jati diri bangsa,” tambahnya.
Yusuf Blegur menutup refleksinya dengan pesan moral yang dalam. Ia menyebut bahwa kekuatan utama TNI bukan pada kecanggihan alutsista, melainkan pada kemurnian hati nurani dalam mengabdi kepada rakyat dan bangsa.
“Memiliki jati diri sendiri merupakan kekuatan sejati TNI untuk NKRI. Bukan sekadar senjata, namun teguh pada hati nurani,” ucapnya.
Menurutnya, TNI akan selalu disegani dunia jika tetap menjadi kekuatan rakyat yang menjunjung tinggi kehormatan, kejujuran, dan keberpihakan pada kebenaran.
“Jika TNI mampu menjaga jati dirinya, maka bangsa Indonesia akan tetap kokoh. Tetapi jika TNI terbelah dan kehilangan arah, maka ancaman terhadap kedaulatan bangsa akan datang bukan dari luar, melainkan dari dalam negeri sendiri,” pungkas Yusuf.











