Keikhlasan menjadi ruh dari setiap amal kebaikan seorang Muslim. Tanpa ikhlas, amal hanya sebatas gerakan hampa yang berakhir sia-sia. Bahkan, jika diniatkan bukan karena Allah, ia bisa berubah menjadi dosa besar yang mengundang murka-Nya.
Amal yang tidak dilandasi keikhlasan sejatinya tak memberi manfaat, baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain. Sebaliknya, amal yang lahir dari hati yang tulus akan menghadirkan ketenangan, memudahkan jalan hidup, serta menjadikan hidup lebih indah dan bermakna.
Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui hal-hal yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kepada Allah semata. Di antara hal-hal tersebut adalah:
Pertama, Banyak Berdoa
Rasulullah SAW sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan. Padahal beliau orang yang paling jauh dari kesyirikan.
Di antara doa yang sering dipanjatkan: “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Riwayat Ahmad)
Kedua, Menyembunyikan Amal Kebaikan
Menyembunyikan amal dapat mendorong seseorang berbuat ikhlas. Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain hasilnya lebih ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah SWT semata. Rasulullah SAW bersabda:
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (Riwayat Bukhari Muslim).
Ketiga, Memandang Rendah Amal Kebaikan
Salah satu cara menjaga keikhlasan adalah dengan tidak memandang besar amal yang dilakukan. Justru, ketika seorang hamba merasa puas dan bangga terhadap amalnya, ia berisiko terjerumus dalam ujub.
Sikap ujub inilah yang dapat merusak nilai keikhlasan. Semakin seseorang membanggakan amalnya, semakin berkurang ketulusan yang seharusnya menjadi ruh dari ibadah tersebut. Bahkan, pahala amal kebaikan bisa lenyap begitu saja jika niat tidak lagi murni karena Allah.
Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah SWT dan Allah SWT pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut. Maka ia pun bertemu Allah SWT dalam keadaan demikian, maka Allah SWT pun memasukkannya ke dalam neraka.”
Keempat, Takut Tidak Diterima Amalnya
Allah berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah senang memberi, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut.
Kelima, Tidak Terpengaruh Perkataan Orang Lain
ujian adalah sesuatu yang pada umumnya disenangi manusia. Tak jarang, hati menjadi senang ketika mendapat sanjungan atas amal kebaikan yang dilakukan. Namun, bagi seorang mukmin, pujian justru bisa menjadi ujian keikhlasan.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berbuat kebaikan lalu mendapat pujian dari manusia. Beliau menjelaskan, hal itu bisa menjadi kabar gembira bagi orang beriman. Meski demikian, seorang hamba tetap harus berhati-hati agar tidak terjebak pada rasa bangga diri (ujub) yang dapat merusak keikhlasan amalnya.
Beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (Riwayat Muslim)
Sebagaimana pujian yang umumnya disukai manusia, celaan pun lazimnya menjadi sesuatu yang dihindari. Namun, bagi seorang mukmin yang ikhlas, keduanya bukanlah ukuran dalam beramal.
Amal yang muncul karena dorongan pujian, atau terhenti karena takut celaan, jelas tidak termasuk dalam kategori ikhlas. Seorang hamba yang tulus tidak bergantung pada penilaian manusia. Saat ia dipuji karena amal shaleh, pujian itu justru menambah rasa tawadhu’ dan kesadarannya bahwa semua kebaikan hanyalah karunia Allah.
Ia pun memandang pujian sebagai ujian. Karenanya, ia berdoa agar Allah menjaganya dari fitnah sanjungan manusia. Sebab, sejatinya, pujian tidak bisa menambah kemuliaan dan celaan tidak akan mengurangi kemuliaan seseorang, karena semua yang terjadi adalah ketetapan Allah SWT.
Keenam, Menyadari Pemilik Surga dan Neraka Adalah Allah SWT
Seorang hamba yang benar-benar sadar akan hari akhir tentu tidak akan menjadikan manusia sebagai tujuan dari amalnya. Sebab, orang-orang yang diharapkan pujian atau kedudukannya itu kelak juga akan sama-sama dihisab di hadapan Allah.
Di padang mahsyar, seluruh manusia berdiri dalam keadaan takut, menunggu keputusan apakah dimasukkan ke surga atau neraka. Tak seorang pun mampu menolong yang lain, bahkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, tidak layak bila amal kebaikan dilakukan hanya demi manusia.
Diriwayatkan, seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai kekasih Allah, bantulah aku memahami kebodohanku ini. Tolong jelaskan kepadaku, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ikhlas itu?”
Nabi bersabda, “Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, “Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah SWT yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“ (Riwayat Al-Qazwini)
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa hakikat ikhlas merupakan rahasia yang hanya dapat diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya.
Untuk memahami makna terdalam dari keikhlasan, seorang mukmin perlu belajar dari kaum arif, para salafus shalih, dan ulama yang dekat dengan Allah. Dari merekalah tersimpan hikmah tentang bagaimana menjaga niat agar tetap murni hanya karena Allah semata.












