Dua puluh satu tahun lalu, Aceh porak poranda oleh tsunami. Tsunami laut. Korban tsunami Aceh kala itu menelan korban ratusan ribu tewas. 45.752 hilang. 125.000 luka-luka.
Penghujung tahun 2025 duka Aceh itu kembali terjadi. ‘Tsunami’ darat berupa banjir dan longsor Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat). Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Senin (8/12/2025) pukul 08.00 WIB, telah menelan korban jiwa 926 orang meninggal, 272 orang hilang, dan sekitar 5 ribu orang terluka.
Yang jelas musibah yang terjadi terhadap manusia atas izin Allah subhanahu wata’ala:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. at-Taghabun: 11]
Sumatera berduka. Miris dan sedih melihat korban jiwa akibat amukan ‘tsunami’ darat menerjang Sumatera. Rakyat tak ‘berdosa’ menjadi korban. Sementara pejabat dan penjahat lingkungan sibuk membela diri.
Bencana Sumatera dan bencana banjir rob di Jakarta dan longsor di Kabupaten Bandung bisa jadi tanda kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat dan menghapus dosa kita.
Bisa pula Allah marah atas dosa-dosa kita. Dosa pemimpin dzalim. Pemimpin penipu dan hanya pandai bicara. Kemaksiatan dimana-mana. Perzinahan, narkoba dan minuman keras. Korupsi menyebar dan terstruktur. Kemusyrikan merajalela.
Musibah bisa juga sebagai hukuman, peringatan dan ujian. Ujian untuk menguji keimanan dan ketaatan, serta peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar [QS. ar-Rum: 41]. Berhenti mengeksploitasi hutan dan merusak lingkungan dengan dalih pembangunan.
Namun, mirisnya pejabat dan penjahat lingkungan sibuk menyalahkan curah hujan. Seolah tak terjadi apa-apa. Padahal bencana alam Sumatera terjadi karena tangan-tangan manusia.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS. ar-Rum: 41]
Ayat ini menjelaskan bahwa penyebab terjadinya bencana alam adalah karena perbuatan manusia sendiri. Kita melihat sendiri penggundulan hutan Sumatera. Konsesi hutan ribuan hektar.
Menurut informasi yang beredar, banjir besar yang melumpuhkan Aceh terjadi di wilayah yang salah satu konsesi hutannya dimiliki langsung oleh Presiden Prabowo melalui PT Tusam Hutani Lestari.
Kabarnya perusahaan yang dipimpin Edhy Prabowo itu menguasai sekitar 97 ribu hektar hutan di Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Utara.
Beberapa hari lalu ada pejabat yang norak memanggul beras di tengah derita rakyat Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Tega-teganya mengeksploitasi penderitaan rakyat untuk pencitraan.
Bahkan ada menteri mengajak menteri lain untuk taubat nasuha dikecam. Diminta mundur. Tidak ada yang salah dengan ajakan taubat nasuha. Siapapun pasti punya dosa.
Seperti seorang menteri yang tertangkap basah main domino dengan bekas tersangka pembalakan liar, Aziz Wellang viral di media sosial. Sebelum terlambat. Taubatlah.
Jangan karena ada nama perusahaan presiden yang disebut-sebut ajakan taubat nasuha menjadi ajang menolak kebenaran dan meredahkan orang lain.
“…Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” [QS. al-Hadid: 23]
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” [al-Jawabul Kaafi, hal. 87]
Kita dianjurkan agar memperbanyak bertaubat dan beristighfar agar dosa dihapus oleh Allah dan tidak Allah turunkan kepada kita dalam bentuk bala’ dan musibah. Kasihan rakyat kecil yang jadi korban keserakahan penguasa dan pengusaha.
Bandung, 18 Jumadil Tsani 1447/9 Desember 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












